Silaturahmi di Unismuh, Prof Haedar Nashir Ingatkan Kader Muhammadiyah Pahami Arsitektur Persyarikatan
KAREBANUSA.COM, MAKASSAR - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir mengingatkan pimpinan dan kader Muhammadiyah agar tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi memahami secara utuh “arsitektur” persyarikatan.
Menurut Haedar, pemahaman tersebut mencakup fondasi pemikiran, misi dakwah dan tajdid, sistem kepemimpinan, kaderisasi, hingga amal usaha Muhammadiyah.
Ia mengatakan, lamanya seseorang berada di Muhammadiyah tidak otomatis membuatnya memahami keseluruhan bangunan persyarikatan.
Persoalan dapat muncul ketika seseorang hanya memahami satu bagian organisasi, kemudian menganggap pemahamannya tersebut sebagai gambaran Muhammadiyah secara keseluruhan.
“Kita ini mesti tahu konstruksi dari rumah kita. Ini poin inti dari yang saya sampaikan,” kata Haedar dalam silaturahim bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel dan jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Ruang Rapat Rektor, Lantai 17 Gedung Menara Iqra, Jumat, 25 September 2026.
Haedar mengibaratkan Muhammadiyah sebagai sebuah rumah besar yang perlu dipahami mulai dari fondasi, struktur, interior, hingga eksteriornya.
Karena itu, pimpinan Muhammadiyah dari tingkat pusat hingga ranting, termasuk mereka yang beraktivitas di amal usaha, dinilai perlu memahami seluk-beluk persyarikatan secara menyeluruh.
Menurut Haedar, pemahaman yang parsial dapat melahirkan kesimpulan yang juga parsial.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang hanya mengenali satu bagian tubuh, kemudian menganggap bagian tersebut sebagai gambaran keseluruhan.
“Kalau hanya di posisi itu, dia hanya akan bicara soal itu. Tidak apa-apa. Tetapi memutlakkan soal itu dan merepresentasikan keseluruhan, di situlah mulai problem,” ujarnya.
Haedar mengatakan persoalan memahami sesuatu secara parsial tidak hanya terjadi dalam kehidupan Muhammadiyah, tetapi juga dapat ditemukan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan berumat.
Fondasi Pemikiran Muhammadiyah
Haedar menyebut fikrah asasi atau pemikiran dasar Muhammadiyah sebagai salah satu fondasi yang perlu dipahami kader.
Fondasi tersebut antara lain bersumber dari gagasan K.H. Ahmad Dahlan, Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, serta berbagai rumusan ideologis yang berkembang sepanjang perjalanan persyarikatan.
Menurut Haedar, pemahaman terhadap fondasi tersebut penting agar kader tidak memandang agama, kehidupan sosial, ilmu pengetahuan, dan persoalan kemanusiaan sebagai hal yang terpisah.
Ia menekankan pentingnya melihat keterhubungan antara kehidupan dunia dan akhirat serta dimensi spiritual dan intelektual.
“Yang ukhrawi, yang duniawi, yang spiritual, yang intelektual, dan sebagainya itu harus jadi satu kesatuan,” katanya.
Haedar juga mendorong kader untuk memahami persoalan secara menyeluruh dan tidak mudah menerima suatu pandangan tanpa terlebih dahulu memahami persoalan tersebut.
Di atas fondasi pemikiran itu, Muhammadiyah menjalankan dua misi utama, yakni dakwah dan tajdid.
Dakwah berkaitan dengan penyebarluasan dan penanaman ajaran Islam, sedangkan tajdid menjadi bagian dari upaya pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah.
“Dakwah dan tajdid itu dua sayap Muhammadiyah, misi utama Muhammadiyah,” ujar Haedar.
Sistem Organisasi di Atas Kepentingan Individu
Haedar juga menekankan pentingnya memahami sistem organisasi Muhammadiyah.
Menurut dia, Muhammadiyah sejak awal berkembang sebagai organisasi yang dibangun melalui sistem, mulai dari struktur persyarikatan, unsur pembantu pimpinan, amal usaha, hingga proses pemilihan pimpinan yang berlangsung secara berjenjang.
Karena itu, konsep kepemimpinan kolektif-kolegial dalam Muhammadiyah tidak cukup dipahami sebagai kesepakatan antarindividu.
Para pemimpin tetap harus bekerja dalam kerangka aturan, nilai, dan identitas persyarikatan.
“Semua kolektif, tetapi sistemnya itu di atas segalanya dan membingkai itu,” katanya.
Haedar mengingatkan kader yang memiliki latar belakang sebagai birokrat, politisi, aktivis lembaga swadaya masyarakat, akademisi, maupun profesi lainnya agar tetap menempatkan pengalaman tersebut dalam kerangka nilai dan sistem Muhammadiyah ketika menjalankan amanah persyarikatan.
Dengan demikian, identitas organisasi tidak bergantung pada gaya personal seorang pemimpin.
Setiap kader dapat memiliki pengalaman dan cara yang berbeda, tetapi tetap berada dalam platform serta kepribadian Muhammadiyah.
Kematangan Kader Tidak Instan
Pemahaman terhadap organisasi juga berkaitan erat dengan proses pembentukan kematangan kader.
Haedar mengatakan pengetahuan yang luas dan posisi yang tinggi tidak cukup apabila tidak disertai kematangan pribadi.
Ia menceritakan perjalanan panjangnya di Muhammadiyah sejak aktif di organisasi otonom hingga dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Menurut Haedar, pengalaman berorganisasi tersebut membentuk kematangan yang tidak seluruhnya dapat diperoleh melalui buku.
“Pengalaman serta kematangan itu mahal sekali sebenarnya karena ditemukan dalam proses perjalanan yang panjang. Yang tidak ada textbook-nya,” ujarnya.
Karena itu, Haedar meminta kader muda tidak tergoda untuk memperoleh posisi atau kekuasaan melalui jalan pintas.
“Kalian jangan ingin instan. Datang ke Jakarta, datang ke Jogja, jangan ingin sesuatu yang menerabas. Ikutilah apa yang selama ini dibangun oleh Muhammadiyah. Jadi kader Muhammadiyah tahap demi tahap,” katanya.
Ia juga mengingatkan kader agar menjaga karakter dan marwah ketika memasuki ruang eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun ruang publik lainnya.
“Jangan mudah tergiur uang, jangan mudah tergiur kekuasaan,” ujar Haedar.
Menurut dia, posisi publik justru menghadirkan berbagai godaan sehingga kader perlu terus mendapatkan pembinaan dan tidak merasa telah mencapai segala-galanya hanya karena memperoleh jabatan tertentu.
Amal Usaha Jadi Bukti Nyata
Setelah pemikiran, sistem, dan kaderisasi, Haedar menempatkan amal usaha sebagai salah satu ciri penting Muhammadiyah.
Menurut dia, kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah tidak terlepas dari kerja nyata melalui sektor pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan ekonomi.
Amal usaha menjadi bentuk konkret kehadiran Muhammadiyah dalam memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Amal usaha itu menjadi kekuatan strategis Muhammadiyah bagi kepentingan umat dan bangsa,” katanya.
Haedar menekankan bahwa membangun amal usaha jauh lebih sulit daripada sekadar membicarakannya.
Institusi yang telah berkembang selama puluhan tahun, kata dia, harus dirawat dan diperkuat serta tidak boleh dirusak oleh konflik internal.
Ia mengingatkan bahwa membongkar sesuatu jauh lebih mudah dibandingkan membangunnya kembali.
Karena itu, Muhammadiyah tidak boleh menganggap ringan amal usaha yang telah tumbuh melalui proses panjang.
“Bukti nyata dari kehidupan adalah amalia,” katanya.
Haedar meminta amal usaha Muhammadiyah terus dikembangkan agar semakin luas memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Pengembangan institusi, lanjut dia, harus diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk karakter, ilmu pengetahuan, kecerdasan, kemampuan membangun jaringan, dan kualitas kepemimpinan.
Dengan demikian, amal usaha Muhammadiyah tidak hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi juga semakin kuat dari sisi kualitas.
Kaderisasi Harus Menjangkau Jamaah
Haedar juga meminta proses kaderisasi tidak berhenti pada struktur pimpinan Muhammadiyah.
Pembinaan, kata dia, perlu menjangkau jamaah di tingkat ranting, masjid, mushala, sekolah, hingga lingkungan amal usaha.
Ia mencontohkan sekolah Muhammadiyah yang menurutnya tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan keluarga.
Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua dan keluarga sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
“Saya yakin sekolah Muhammadiyah akan maju ketika sekolah kita ini terkoneksi dengan keluarga,” katanya.
Menurut Haedar, masjid, mushala, ranting, dan lingkungan amal usaha juga perlu menjadi ruang yang memberikan makna bagi kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam.
Dengan penguatan di berbagai lini tersebut, Haedar berharap Muhammadiyah dapat terus berkembang tanpa kehilangan fondasi dan identitas persyarikatan.
“Insya Allah kalau seperti itu, Muhammadiyah ke depan akan menjadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi,” ujarnya.
Silaturahim tersebut dihadiri Rektor Unismuh Makassar Dr Abd. Rakhim Nanda, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof Ambo Asse, jajaran pimpinan wilayah Muhammadiyah, Badan Pembina Harian, pimpinan universitas dan fakultas, lembaga, serta unsur persyarikatan lainnya.
Dalam sambutan sebelumnya, Ambo Asse mengatakan pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Muhammadiyah Sulawesi Selatan untuk memperoleh pandangan langsung mengenai perkembangan persyarikatan.
Ia juga menyampaikan sejumlah perkembangan organisasi dan aktivitas Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
(*)
Tags: kader Muhammadiyah Muhammadiyah Sulsel PP Muhamamdiyah Prof Haedar Nashir PWM Sulsel Unismuh Makassar
Baca juga
- Unismuh Makassar Naik 122 Peringkat di UI GreenMetric 2026, Tembus 500 Besar Dunia
- Rektor Unismuh Makassar Dorong Paradigma Baru Ketahanan Air di Tengah Perubahan Iklim
- 644 Mahasiswa Baru FKIK Unismuh Ikuti LSIT 2026, Dibekali Keterampilan Belajar dan Literasi Digital
- Orientasi Mahasiswa Baru Unismuh Makassar Digelar 7-17 September 2026
- Unismuh Makassar Bedah 2.263 Usulan Program dalam Raker 2026-2027, Bidik Teaching University Bereputasi Global
