KAREBANUSA.COM –  “Kebanyakan pengrajin sekarang usianya di atas 45 tahun, bahkan sudah banyak yang pensiun dan tidak bisa lagi berproduksi.”

Itulah suara keresahan dari Yulianti tentang keberadaan anyaman Teduhu, salah satu karya tradisional di Desa Nuha, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Bagaimana tidak, pengrajin anyaman Teduhu di kampungnya mulai berkurang seiring dengan pergantian masa, nyaris kehilangan penerusnya.

Padahal, Anyaman Teduhu atau Moena merupakan kerajinan tangan yang bernilai seni tinggi  dan bernilai ekonomis.

Teduhu menggunakan pakis atau paku hutan yang dalam Bahasa Indonesia yaitu Resam. Penamaan Teduhu diambil dari Bahasa Nuha yang artinya “tertusuk”. Itu karena kulit dari pakis ini keras dan jika patah bisa menusuk dan melukai.

Mengayaman teduhu ini merupakan warisan masyakarat di Desa Nuha sejak jaman dulu dan pengetahuan tersebut diwariskan ke generasi selanjutnya.

Berbagai macam jenis anyaman yang dihasilkan warga Nuha dari Teduhu ini, seperti wadah pakaian, wadah makanan, tas, dan tempat tissue.

Namun, seiring berjalan waktu, makin sedikit yang mau menekuni kerajinan lokal tersebut. 

Salah satunya yang bertahan adalah Yulianti.

“Untuk melestarikan ini, memang membutuhkan regenerasi baru. Kalau tidak, ini bisa saja punah dan generasi mendatang tidak kenal jika kita punya kerajinan khas Teduhu,” ucap Yulianti saat ditemui di stand PT Vale Indonesia dalam pameran Dekranas di TSM Makassar, Juli 2026 lalu.

“Hal ini yang menjadi dorongan saya untuk menekuni dan mencoba menghidupkan lagi kerajinan khas dari kampung saya ini,” tambah wanita berusia 37 tahun itu.


“Sebagai generasi pengayam, saya harus bisa melestarikan Teduhu, mempertahankan warisan nenek moyang saya, jangan sampai tinggal nama,” tegasnya.

Ia bercerita, sebelum menggunakan teduhu, masyarakat Nuha menggunakan berbagai jenis serat alam, termasuk serta daun pandan. 

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai melirik teduhu sebagai bahan baku anyaman karena dinilai lebih estetik, indah dipandang.

“Pengrajin mulai bergeser karena menggunakan teduhu. Kalau sebelumnya anyaman mengutakan fungsi, kini bukan hanya itu lagi tapi kita kembangkan untuk kebutuhan dekorasi yang estetik,” ungkapnya.

“Awalnya itu ditemukan tidak sengaja oleh warga dan mencoba mengambil serat dan ternyata bagian dalam itu biasa dipakai untuk tali jerat dan teksturnya kuat. Dicobalah dimanfaatkan dan diaplikasikan menjadi anyaman dan ternyata hasilnya lebih estetis,” katanya.

Yuliati mengaku neneknya dulu adalah pengayam Teduhu. Dia merupakan generasi ketiga. Ia mulai belajar mengayam dari ibunya pada tahun 2008, saat usianya masih remaja. 

Namun, ia berhenti karena harus meninggalkan kampung halamannya untuk lanjut kuliah. Saat kembali tahun  2019, bersamaan dengan pandemi Covid-19, Yulianti pun mulai kembali menekuni anyaman teduhu.

“Miris juga saat itu karena pengrajin makin sedikit, dan rata-rata usia lanjut, nyaris kehilangan penerus,” beber Yulianti yang kini sebagai Ketua Sentra Anyaman Serat Alam Nuha Handicraft.

Tak patah semangat, Yulianti pun mengajak anak-anak muda di kampugnya untuk berdaya meneruskan warisan leluhur.

Anak ke-9 dari 9 bersaudarah ini bersyukur karena usahanya mendapat sambutan yang baik. Sekitar 10 anak muda usia di bawah 25 tahun, umumnya orang tua mereka juga merupakan pengayam, mau bergabung dengannya.

Bersama mereka inilah, Yulianti mendirikan sentra kerajinan, melestarikan warisan nenek moyang mereka.

“Pastinya harapan kami adalah bagaimana agar anyaman Teduhu ini tetap lestari dengan menarik para gen z, menghidupkan kembali tradisi yang sudah hampir kehilangan ini,” ucapnya.

 

Yulianti tidak hanya mengajak anak-anak muda ini membuat produk baru, tapi juga mewariskan pengetahuan mengolah teduhu dari nol hingga menjadi anyaman tradisional yang bernilai ekonomis.

Ada proses yang akan dilalui sebelum dianyam. Teduhu yang diambil dari hutan tidak boleh ditinggal, harus langsung dikupas.

Proses kupasnya itu melalui tiga tahap, kemudian ke tahap penghalusan, dan dianyam menggunakan bahan tambahan seperti rotan yang menjadi rangka untuk membentuk suatu produk.

Pendampingan PT Vale

Di saat Yulianti bersama anak muda Desa Nuha berjuang melestarikan Anyaman Teduhu agar tidak punah, PT Vale Indonesia PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) hadir memberikan pendampingan.

Specialist Environment Sustainability PT Vale Indonesia, Rizki Pratiwi,  perusahaan dalam menjalankan aktivitas pertambangannya mampu memberikan dampak nyata terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Transformasi PT Vale juga mencakup pemberdayaan masyarakat dengan mendorong warga memiliki kapasitas untuk mengelola potensi ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan.

Karena itu, PT Vale memberikan pendampingan kepada pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas bisnis sekaligus mendorong mereka agar dapat naik kelas.

Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, menjelaskan bahwa perusahaan menaruh perhatian besar pada keberlangsungan kearifan lokal. 

Saat ini, PT Vale membina generasi kedua pengrajin yang berusia 16 hingga 23 tahun untuk meneruskan keahlian para pengrajin senior yang kini berusia 40 hingga 50 tahun.

"Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi dan tradisinya tetap lestari," ucap Yusri. 

"Untuk itu, PT Vale memberikan pendampingan, mulai dari pengenalan bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), manajemen usaha, hingga membuka akses pasar seluas-luasnya," kata Yusri.

Saat ini, PT Vale kini membina dua komunitas, yaitu Komunitas Teduhu dari Desa Nuha (12 pengrajin) yang mengolah pakis hutan, serta Komunitas Sampa Konao dari Desa Matano (10 pengrajin muda) yang mengolah pelepah pohon aren. 

PT Vale telah membina dua komunitas pengrajin di wilayah operasional, yakni Komunitas Teduhu di Desa Nuha yang mengolah serat pakis hutan menjadi anyaman Teduhu dan Komunitas Sampa Konao di Desa Matano yang memanfaatkan pelepah pohon aren sebagai bahan baku kerajinan. 

Selain itu, ada sekitar 104 UMKM di Lutim telah mendapatkan pendampingan melalui program pendampingan, sementara pendekatan serupa juga dikembangkan di Morowali dan Pomalaa.

Specialist Environment Sustainability PT Vale Indonesia, Rizki Pratiwi, menekankan bahwa transformasi PT Vale tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja bisnis, tetapi juga memastikan pertumbuhan perusahaan berjalan beriringan dengan inovasi teknologi, pengelolaan lingkungan, dan peningkatan manfaat bagi masyarakat.

“Targetnya bukan jumlah, tetapi kualitas. Kami berharap ada UMKM yang naik kelas,” ujar Rizki.

Pendampingan yang diberikan mencakup penyusunan business plan, pengelolaan keuangan, pengembangan produk, hingga regenerasi usaha dengan melibatkan generasi muda untuk menjaga keberlanjutan UMKM.

PT Vale juga memperkuat komunitas agar memiliki kemampuan dalam mengelola program pemberdayaan secara berkelanjutan.

“Kita juga melakukan penguatan komunitas agar mampu mengelola program pemberdayaan secara berkelanjutan,” katanya.

Dari Penguatan Kapasitas hingga Akses Pasar

Tidak berhenti pada pendampingan, PT Vale juga memastikan bahwa produk UMKM dan komunitas bisa naik kelas, dikenal tidak hanya di Luwu Timur tapi juga ke Nusantara bahkan ke luar negeri.

Karena itu, PT Vale rutin membawa produk-produk UMKM binaannya mengikuti pameran, baik di Makassar hingga ke Jakarta. Seperti menghadirkan anyaman Teduhu pada pameran produk lokal Dekranas di Makassar, Juli 2026 lalu.

Kemudian, baru-baru ini, PT Vale juga membawa 37 produk UMKM dari Sulawesi yang merupakan binaannya ke Pameran Kriyanusa 2026 di Jakarta.

Sebelum membawa produk UMKM binaan ke pameran nasional, PT Vale menjalankan berbagai program pengembangan kapasitas yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah. pengolahan pangan.

External Relations Officer PT Vale IGP Pomalaa, Sri Mitha Fitriani, mengatakan penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

“Pendampingan dimulai dengan membangun kapasitas sumber daya manusianya melalui berbagai pelatihan dan pendampingan. Harapannya, kualitas dan kapasitas produk UMKM binaan terus meningkat sehingga mampu menjangkau pasar yang semakin luas,” ujar Sri Mitha.

Selain itu, PT Vale juga mengintegrasikan produk lokal ke dalam ekosistem bisnisnya dengan menjadikannya sebagai souvenir resmi bagi para tamu korporat serta memasarkannya di jaringan hotel dan galeri.

Pengrajin Teduhu asal Desa Nuha, Yulianti, mengakui dukungan PT Vale telah membawa manfaat bagi pengrajin di desanya. 

Tradisi menganyam yang sudah ada sejak tahun 1970-an kini terus berkembang secara estetika dan variasi produk makin banyak sejak para pengrajin mulai memanfaatkan serat teduhu pada tahun 2006.

"Bersama PT Vale, kami bisa melakukan inovasi produk mulai dari kotak tisu hingga tas modern, sekaligus mengajak anak-anak muda di desa untuk ikut menjaga tradisi ini agar tidak punah. Kesempatan mengenalkan teduhu di ajang Dekranas ini sangat berharga untuk memperluas pasar dan membuka peluang kerja sama baru," tutur Yulianti.

Yuliati mengaku anyaman Teduhu tidak hanya dimanfaatkan masyarakat lokal  saja, tapi kini mulai dilirik masyarakat luas. Ia kerap mendapatkan pesanan dari berbagai daerah, seperti dari Makassar hingga Sumatera.

Anyaman teduhu ini telah menjadi souvenir bahkan, telah dinyatakan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia dan telah terdaftar sebagai Kekayaan Intelektual Komunal, dikutip dari luwutimurkab.go.id.

(*)


Tags: Anyaman Teduhu Kecamatan Nuha Nuha PT Vale PT Vale Indonesia Tbk

Baca juga