Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi (kanan) bersama Deputi Bidang Investasi Badan Pengusahaan (BP) Batam, Fary Djemy Francis (kiri). Penjajakan Ammonia Hub diawali dengan pertemuan konsultasi Pupuk Indonesia bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam di Kantor BP Batam, Batam, Kepulauan Riau, Senin (2/11/2026).

KAREBANUSA.COM, BATAM – PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki pembangunan Ammonia Hub di Batam, Kepulauan Riau, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah gas alam melalui pengembangan industri petrokimia dan hilirisasi.

Rencana tersebut akan mengoptimalkan potensi pasokan gas dari Natuna dan Grissik, terutama apabila kontrak penyaluran gas antara Indonesia dan Singapura berakhir pada 2028 mendatang.

Inisiatif ini diawali melalui pertemuan konsultasi antara Pupuk Indonesia dan Badan Pengusahaan (BP) Batam di Kantor BP Batam, Senin (2/11), yang dihadiri Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi bersama jajaran serta Kepala BP Batam Amsakar Achmad beserta jajaran.

Rahmad Pribadi mengatakan, rencana pembangunan Ammonia Hub merupakan bagian dari upaya mendukung kebijakan pemerintah dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk mendorong pertumbuhan industri dan perekonomian nasional.

“Pak Presiden Prabowo juga menegaskan, sumber daya alam adalah darah kita, yang tentunya harusnya digunakan untuk mengembangkan perekonomian nasional," kata Rahmad.

"Pak Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM juga menyampaikan untuk sumber daya gas alam dan yang lainnya itu diutamakan untuk domestik dulu."

"Nah, Pupuk Indonesia ini adalah perusahaan yang menggunakan gas alam sebagai bahan bakunya untuk memproduksi salah satunya ammonia yang sangat-sangat besar,” terang Rahmad Pribadi.

Menurut Rahmad, gagasan tersebut juga terinspirasi dari keberhasilan Singapura membangun industri pengolahan minyak dan layanan maritim selama lebih dari lima dekade hingga berkembang menjadi salah satu pusat bunkering terbesar di dunia.

Layanan bunkering merupakan aktivitas pengisian bahan bakar bagi kapal yang melintasi jalur pelayaran internasional.

Seiring perkembangan industri pelayaran menuju penggunaan bahan bakar rendah karbon, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan fasilitas serupa dengan memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku produksi amonia.

Peluang tersebut semakin terbuka dengan adanya arah kebijakan International Maritime Organization (IMO) melalui IMO Net-Zero Framework yang mendorong pengembangan berbagai alternatif bahan bakar rendah dan nol emisi, termasuk amonia untuk kebutuhan industri maritim.

Kapasitas Produksi Ammonia Jadi Modal Pengembangan

Pupuk Indonesia menyatakan memiliki modal industri untuk mendukung pengembangan ekosistem amonia, dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 7,1 juta ton per tahun.

Kapasitas tersebut menempatkan perusahaan sebagai salah satu produsen amonia berskala besar di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa/MENA) serta Asia Pasifik.

Berangkat dari kapasitas tersebut, Pupuk Indonesia menginisiasi rencana pembangunan Ammonia Hub di Batam dengan memanfaatkan potensi pasokan gas alam dari Natuna dan Grissik.

Fasilitas ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan gas alam untuk industri hilir sekaligus membangun infrastruktur produksi, penyimpanan, distribusi, dan perdagangan amonia bagi pasar domestik maupun internasional.

Rahmad menegaskan, inisiatif tersebut tidak hanya berorientasi pada penguasaan sumber daya alam, tetapi juga mendorong pengembangan industri pengolahan di dalam negeri agar menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

“Sekali lagi, apa yang kami lakukan ini adalah bentuk dari kontribusi kita untuk Indonesia, ini bukan resource nationalism, tapi resource industrialization, artinya hilirisasi. Kenapa ini bukan nasionalisme dari sumber daya alam? Karena kami juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan siapa saja. Yang kita inginkan nilai tambahnya ada di dalam negeri. Jadi itu sekali lagi, this is not resource nationalism, this is resource industrialization,” pungkas Rahmad Pribadi.

BP Batam Siapkan Dukungan Perizinan

Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menyampaikan dukungan terhadap rencana pembangunan Ammonia Hub yang diinisiasi Pupuk Indonesia.

Ia mengatakan, BP Batam siap memberikan kemudahan dan percepatan proses perizinan yang diperlukan, termasuk dukungan terkait pengalokasian lahan apabila rencana investasi tersebut telah mencapai kesepakatan.

“Kami juga akan memberikan percepatan dalam rangka proses-proses selanjutnya, perizinan apabila ada kesepakatan, dan ruang pengelokasian lahan kalau sudah kita adakan," kata Fary Djemy Francis.

"Selain itu, yang paling penting adalah tadi kalau sudah masuk dalam ready to invest BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia,” ujar Fary Djemy.

Dukungan tersebut, menurut Fary, sejalan dengan arahan pemerintah untuk mendorong Batam menjadi salah satu model pengembangan pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan potensi kawasan.

Sebagai informasi, sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik, seperti Australia, Singapura, dan Korea Selatan, mulai menyiapkan infrastruktur serta ekosistem untuk mendukung penggunaan amonia sebagai bahan bakar kapal.

Pengembangan Ammonia Hub di Batam diharapkan dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran dalam rantai pasok amonia global sekaligus memperkuat industri hilir berbasis gas alam di dalam negeri.

(*)


Tags: Ammonia Hub Batam Gas Grissik Gas Natuna Hilirisasi Gas Alam Industri Amonia Pupuk Indonesia

Baca juga