KAREBANUSA.COM - Jumlah korban akibat kebakaran hebat di kompleks perumahan bertingkat tinggi atau partemen di wilayah Wang Fuk Court, Distrik Tai Po, Hong Kong, terus bertambah.

Hingga Kamis (27/11/2025) petang, korban tewas telah mencapai 55 orang. Sementara 280 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Upaya pencarian korban hilang masih terus dilakukan. 

Dari 55 korban tewas, dua orang dilaporkan merupakan warga negara Indonesia (WNI). Selain itu, dua WNI lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.

Plt Direktur Jenderal Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu, Heni Hamidah, mengatakan, keempat korban merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Hong Kong.

"Dari hasil koordinasi intensif Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong dengan Hong Kong Police Force (HKPF), diperoleh informasi hingga saat ini, ada dua orang WNI dinyatakan meninggal dunia dan dua luka-luka," kata Heni, Kamis (27/11/2025).

"Semua korban merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) sektor domestik," jelasnya.

2 WNI yang menjadi korban luka ini dirawat di rumah sakit bersama puluhan korban luka lainnya.

Dilaporkan, tercatat 76 orang korban kebakaran apartemen dirawat di rumah sakit. Dari jumlah itu, 15 orang dalam kondisi kritis, dan 28 di antaranya dianggap kasus serius.

Sampai saat ini, petugas terus melakukan upaya pemadaman api.

Untuk diketahui, kompleks apartemen di Wang Fuk Court itu terdiri dari delapan gedung pencakar langit dengan hampir 2.000 unit yang menampung sekitar 4.800 penghuni, termasuk banyak lansia.

Aparteman ini dibuka pada tahun 1983.

Sebanyak tujuh dari delapan tower apartemen ini terbakar sejak Rabu (26/11/2025) siang. 

Hingga saat ini, empat blok sudah berhasil dikendalikan.

Sementara di 3 blok lainnya, api masih berkobar, utamanya di bagian atas gedung. 

Dikutip dari CNA, Derek Armstrong Chan mengaku kesulitan memadamkan api di gedung lantai atas. 

"Dalam kegelapan, hal itu akan menimbulkan bahaya dan kesulitan tambahan bagi operasi kami, dan hingga saat ini, suhu di dalam lokasi kebakaran masih sangat tinggi. Jadi, kami kesulitan untuk mencapai lantai atas dua gedung tersebut," kata Chan. 

Penyelidikan

Pihak berwenang tengah melakukan penyelidikan kriminal terhadap kebakaran yang dianggap paling mematikan di kota itu dalam beberapa dekade.

Berdasarkan penyelidikan awal, petugas menemukan styrofoam yang sangat mudah terbakar menutupi jendela lift di setiap lantai.

Hal ini menurut pihak berwenang menyebabkan api menyebar lebih cepat ke dalam blok dan membakar gedung lainya.

"Papan polistirena ini sangat mudah terbakar dan membuat api menyebar dengan sangat cepat," kata Direktur Dinas Pemadam Kebakaran, Andy Yeung, seperti dikutip CNN.

"Keberadaan papan tersebut tidak biasa, sehingga kami telah menyerahkan temuan ini kepada polisi untuk penyelidikan lebih lanjut," tambah Yeung.

Selain itu, perancah bambu masih terpasang di luar dan ditutupi jaring berwarna hijau.

Perancah semacam itu umumnya digunakan untuk pekerjaan konstruksi dan renovasi. 

"Jaring dan lembaran kain yang digunakan di luar gedung juga tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran," ungkap petugas pada Rabu malam.

Gedung-gedung tersebut memang tengah menjalani serangkaian renovasi besar-besaran sejak Juni 2024. 



Tags: Hong Kong kebakaran apartemen Pekerja Migran Indonesia (PMI) Warga Negara Indonesia (WNI)

Baca juga