KAREBANUSA.COM, Makassar – Muhammad Roem menegaskan bahwa kekuatan sebuah kota tidak terletak pada kemegahan bangunan, melainkan pada kolaborasi antara pemerintah, industri, masyarakat, dan sejarah yang dimilikinya.

Setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai aparatur sipil negara, Roem kini dipercaya memimpin Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Makassar.

Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, periode 2021–2025.

Melalui pendekatan yang ia sebut “reinventing government”, Roem mendorong penyederhanaan birokrasi sekaligus membangun kemitraan erat antara pemerintah dan pelaku industri, di mana pemerintah berperan sebagai fasilitator, bukan lagi pengambil keputusan tunggal.

Atas kiprahnya tersebut, Roem meraih penghargaan Australian Alumni Awards-South Sulawesi 2026 kategori Emerging Leader yang diberikan oleh Australian Consulate-General in Makassar pada 24 Januari 2026.

Perubahan gaya kepemimpinan Roem berakar dari pengalamannya mengikuti Australia Awards Short Course tentang Sustainable Tourism for Regional Growth di Griffith University pada 2017.

“Pertama, saya melihat peluang untuk mempelajari bagaimana sektor pariwisata dikembangkan di Australia, yang kemudian bisa diterapkan di Makassar. Selain itu, saya juga dapat membangun jaringan dengan orang-orang di Australia yang juga dekat dengan Makassar dan senang bepergian ke sana,” ujar Roem.

Dari pengalaman tersebut, ia menyadari pentingnya keterlibatan industri sejak tahap perencanaan hingga evaluasi kebijakan, sebagaimana praktik yang ia pelajari di Australia.

Sepulangnya ke Makassar, Roem menginisiasi kolaborasi antara pemerintah dengan hotel dan agen perjalanan dalam menentukan strategi promosi pariwisata, termasuk menetapkan target pasar secara bersama-sama berdasarkan data.

Langkah ini membuat penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi lebih tepat sasaran dan disepakati seluruh pemangku kepentingan.

Jakarta ditetapkan sebagai target utama sektor MICE yang berkontribusi sekitar 64 persen terhadap okupansi hotel di Makassar, sementara Bali difokuskan sebagai pintu masuk wisatawan mancanegara untuk memperkuat posisi Makassar sebagai hub Indonesia Timur.

“Pemerintah harus membantu industri agar dapat berkembang dan menciptakan sebanyak mungkin lapangan kerja,” ujar Roem. “Menciptakan lapangan kerja berarti tingkat kemiskinan dan pengangguran dapat ditekan serta pertumbuhan ekonomi dapat meningkat.”

Kepemimpinan Roem diuji saat pandemi COVID-19 melanda dan sektor pariwisata terhenti.

Dalam situasi tersebut, ia menerapkan konsep Community-Based Tourism dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk mengelola potensi wisata secara berkelanjutan.

“Potensi itu sudah ada, seperti garis pantai. Namun bagaimana masyarakat menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan, itulah yang terpenting. Kami memberikan edukasi melalui Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata),” ujarnya.

Salah satu keberhasilan pendekatan ini terlihat pada Desa Wisata Lakkang yang berhasil masuk dalam 75 Desa Wisata Terbaik versi Asosiasi Desa Wisata Indonesia.

Selain itu, Roem juga mendorong tren “wellness tourism” dengan memanfaatkan garis pantai Makassar sebagai ruang aktivitas luar ruangan yang aman selama pandemi.

Di luar inovasi birokrasi, Roem juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap sejarah hubungan antara masyarakat Makassar dan suku Yolngu di Australia Utara yang telah terjalin lebih dari tiga abad.

“Masyarakat Makassar dan suku Yolngu telah bersahabat selama lebih dari tiga abad. Bahkan ada kata-kata dalam bahasa Yolngu yang berasal dari bahasa Makassar dan memiliki makna yang sama,” jelas Roem. “Diplomasi sejarah ini menjadi dasar bagi kerja sama ekonomi dan sosial modern kita.”

Ia juga mengingat momen ketika musisi Yolngu, G Yunupingu tampil di Makassar Jazz Festival 2014 sebagai simbol penguatan hubungan budaya kedua wilayah.

Kini, dalam perannya di Kominfo, Roem terus memanfaatkan jaringan alumni Australia Awards untuk mendukung percepatan transformasi digital di Makassar, termasuk kolaborasi melalui program ASEAN Australia Smart Cities Trust Fund.

“Karena kami memiliki latar belakang yang sama, sudah ada kepercayaan, sehingga jika ada masalah atau kebutuhan data, saya cukup menghubungi sesama alumni dan semuanya menjadi lebih cepat,” ujar Roem.

Ia pun berpesan kepada generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya untuk menempuh pendidikan di luar negeri agar tetap berorientasi pada kontribusi bagi masyarakat.

“Lakukan banyak hal di lingkungan Anda, karena yang diharapkan dari program ini adalah kebermanfaatan kita setelah kembali,” ujarnya. “Kita harus melakukan riset terlebih dahulu, apa sebenarnya yang dibutuhkan di lingkungan kita sebelum berangkat. Ini bukan hanya tentang pengembangan diri, tetapi lingkungan juga harus mendapatkan manfaat.”

(*)


Tags: Australian Alumni Awards 2026 Diskominfo Makassar Griffith University Muhammad Roem

Baca juga