Refleksi Jumat Agung Bagi Masyarakat Beriman Zaman Sekarang

KAREBANUSA.COM - Peristiwa Jumat Agung bukan sekadar kisah religius tentang penderitaan Yesus di masalampau. Ia adalah cermin sejarah manusia yang terus berulang dalam berbagai bentuk

sepanjang zaman. 

Kisah salib memperlihatkan bagaimana kekuasaan, ketakutan, kepentingan kelompok, dan stabilitas sosial sering kali lebih diutamakan dari pada kebenarandan keadilan. 

Karena itu Jumat Agung bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga peristiwa kemanusiaan yang selalu relevan untuk dibaca kembali dalam konteks kehidupan sosial kita hari ini. 

Jika kita membaca kisah pengadilan Yesus secara jujur, kita menemukan bahwa kematianNya tidak hanya disebabkan oleh satu pihak. 

Ia lahir dari Persekutuan, konspirasi kepentingan antara elite religius dan kekuasaan politik. Para pemimpin agama melihat Yesus sebagai ancaman terhadap stabilitas religius yang mereka kelola. 

Sementara penguasa politik melihatNya sebagai potensi gangguan terhadap ketertiban umum. Dalam situasi seperti itu, kebenaran menjadi tidak lagi penting. 

Yang lebih penting adalah menjaga stabilitas. Pilatus sendiri sebenarnya tidak menemukan kesalahan serius pada Yesus. Namun tekanan massa dan pertimbangan politik membuatnya memilih jalan kompromi. 

Keputusan itu bukan keputusan keadilan, melainkan keputusan kekuasaan. Di sinilah kita melihat bahwa dalam sejarah manusia, kebenaran sering kali dikalahkan bukan karena ia lemah, tetapi karena ia dianggap tidak menguntungkan. 

Yang lebih menyedihkan, peristiwa salib juga memperlihatkan bahwa pembungkaman terhadap suara kebenaran tidak selalu datang dari luar. 

Ia juga dapat muncul dari dalam komunitas sendiri. Yudas mengkhianati Yesus. Petrus menyangkalNya karena takut. Para murid lainnya melarikan diri. 

Kisah ini menunjukkan bahwa ketakutan sering kali membuat manusia kehilangan keberanian moralnya. Ketakutan adalah musuh terbesar manusia, karena itu dalam sejarah Sosial Politik ketakutan sangat efektif mengendalikan masyarakat. 

Orang bungkam bukan karena tidak tahu kebenaran, namun bungkam karena takut kehilangan posisi, takut kehilangan jabatan, takut dikucilkan, takut berhadapan dengan kekuasaan. 

Tokoh Pilatus dalam tragedi Jumat Agung sangat jelas memperlihatkan karakter ini, seorang pemimpin yang akhirnya cuci tangan, enggan bersikap meskipun ia tahu ada ketidakadilan. 

Cerminan Pilatus begitu mudah kita temukan dalam konteks elite Lokal yang tunduk pada oligarki ekonomi, pemimpin yang memilih mengorbankan masyarkat demi investasi besar dengan seluruh narasi pembenarannya. 

Secara prinsip Pilatus tidak membenci Yesus, Ia coba membebaskannya tapi pada akhirnya Ia memilih tunduk padatekanan Kekuasaan dan kepentingan politik.

Pilatus adalah system yang bekerja tanpa Nurani di zaman sekarang , ia nyata terlihat ketika hukum tunduk pada modal, ketika kebijakan tunduk pada investor, ketika suara rakyat dikalahkan ole proyek besar. 

Karena itu Jumat Agung sesungguhnya adalah cermin bagi setiap orang beriman. 

Momen ini mengajak kita bertanya, ketika kebenaran berada dalam tekanan, di manakah posisi kita? Apakah kita berdiri bersama mereka yang lemah, atau justru diam demi keamanan diri

sendiri?

Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat berbagai dinamika sosial di sekitar

kita dewasa ini. Dalam banyak kasus di berbagai wilayah Indonesia, masyarakat lokal danmasyarakat adat tidak jarang menghadapi tekanan ketika berhadapan dengan proyek-proyek pembangunan berskala besar seperti pengembangan energi geothermal, program foodestate, pertambangan, maupun ekspansi perkebunan skala luas. 

Proyek-proyek tersebut sering diperkenalkan atas nama kemajuan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi dalam praktiknya dapat menimbulkan ketegangan sosial ketika ruang hidup masyarakat tradisional

terancam atau suara keberatan mereka tidak memperoleh ruang dialog yang memadai. 

Dalam situasi seperti ini, suara-suara yang berusaha memperjuangkan keadilan ekologis dan martabat masyarakat lokal kadang dipersepsikan sebagai penghambat pembangunan. 

Tidak jarang pula muncul tekanan sosial, delegitimasi publik, atau proses hukumyang membuat

masyarakat kecil semakin sulit menyampaikan aspirasi mereka secara bebas. 

Di sinilah refleksi Jumat Agung menemukan relevansinya yang paling nyata “Salib mengingatkan kita bahwa stabilitas politik, kepentingan kekuasaan, kepentingan modal sering kali lebih mudah dilindungi daripada keadilan".

Salib tidak hanya berbicara penderitaan Yesus 2000 tahun yang lampau namun Salib tetap berbicara secara kontekstual hingga zaman ini, tentang teladan keberanian untuk tetap berdiri kokoh, setia pada kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu membuatnya berdiri

sendirian, bahkan berakhir tragis dengan kematian. 

Namun kisah salib juga bukan sekadar kisah tentang kekalahan. Ia adalah kisah tentangkeberanian moral yang tidak menyerah kepada tekanan. Yesus tidak melawan dengankekerasan, tetapi juga tidak mundur dari kebenaran yang Ia wartakan. 

Ia tetap setia padapanggilanNya sampai akhir. Dalam kesetiaan itulah martabat manusia dipulihkan. 

Karena itu masyarakat beriman dipanggil untuk belajar dari keberanian tersebut. Iman tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga diwujudkan dalam keberanian menjaga keadilan, melindungi martabat sesama, dan merawat bumi sebagai rumah bersama. 

Keberanian moral seperti inilah yang menjadi tanda bahwa iman masih hidup di tengah masyarakat. Peristiwa Jumat Agung tidak berakhir di salib. Dalam terang Paskah, iman Kristiani percaya bahwakebenaran tidak pernah berhenti pada kekalahan. 

Salib bukan akhir dari perjalanan Yesus, melainkan jalan menuju kebangkitan yang membuka harapan baru bagi manusia. Karena itu setiap kali masyarakat berhadapan dengan ketidakadilan, tekanan kekuasaan, atau pembungkaman terhadap suara-suara moral, umat beriman dipanggil untuk tetap percaya bahwa keberanian nurani tidak pernah sia-sia. 

Kebangkitan Kristus menjadi tanda bahwa kebenaran yang tampak kalah dalam sejarah tidak pernah benar-benar dikalahkan. 

Ia akan menemukan jalannya kembali dalamhati manusia yang berani berdiri di pihak keadilan dan kebenaran, menjaga martabat sesama, dan merawat kehidupan bersama dengan tanggung jawab. 

Di sinilah harapan Paskah menemukan maknanya yang paling nyata bukan hanya sebagai perayaan iman, tetapi sebagai panggilan untuk membangkitkan kembali keberanian moral dalamkehidupanbersama.

Selamat memperingati Trihari Suci, Tuhan memberkati kita semua. 

Jumat Agung 3 April 2026

Penulis: Fransiskus Allo

(Dewan Pakar Pemuda Katolik Tana Toraja, Pemerhati Toraja)


Tags: Fransiskus Allo Jumat Agung Opini

Baca juga