KAREBANUSA.COM, Belopa - Di sebuah desa di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Ani (53) memulai harinya lebih awal dibanding kebanyakan orang.

Ia harus membagi waktu antara merawat anak semata wayangnya yang menyandang cerebral palsy sejak lahir, mengurus kebun, hingga menyiapkan tanaman yang akan dikirim ke pelanggan di berbagai daerah.

Perjalanan hidup Ani tidak selalu mudah.

Sejak ditinggal suaminya pada 2011, ia harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus kepala keluarga.

Tanggung jawab itu semakin berat ketika dirinya kehilangan pekerjaan pada 2018 akibat kebijakan perusahaan tempatnya bekerja.

Di usia yang tidak lagi muda, kesempatan untuk kembali bekerja semakin terbatas.

Apalagi ia tinggal di wilayah pedesaan yang pilihan lapangan kerjanya tidak sebanyak di perkotaan.

Namun Ani memilih untuk tidak menyerah.

Anak keempat dari sembilan bersaudara itu mulai mengandalkan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagian hasil panen dijual ke pasar setempat.

Sebagian lainnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tidak hanya menanggung biaya hidup dirinya dan anaknya, Ani juga kerap membantu memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya yang lebih sering makan di rumahnya.

Di halaman rumah yang cukup luas, Ani kemudian mulai menanam berbagai jenis tanaman hias dan tanaman produktif.

Keputusan sederhana itu justru menjadi titik balik kehidupannya.

Berawal dari Hobi Menanam Saat Pandemi

Ketika pandemi Covid-19 melanda, tren tanaman hias mengalami peningkatan.

Banyak masyarakat mulai mengoleksi tanaman untuk mempercantik rumah.

Momentum itu dimanfaatkan Ani untuk mencoba menjual tanaman miliknya melalui media sosial Facebook.

Awalnya, pembeli hanya berasal dari kalangan teman dan kerabat.

Namun seiring waktu, minat pembeli terus bertambah.

Permintaan tidak hanya datang dari wilayah Luwu, tetapi juga dari daerah lain di Sulawesi bahkan luar pulau.

Di tengah meningkatnya pesanan, Ani justru dihadapkan pada tantangan baru.

Ia bingung bagaimana cara mengirim tanaman hidup ke daerah yang jauh.

"Saya sempat bingung menerima pesanan dari luar daerah karena tidak tahu bagaimana cara mengirimnya," kenang Ani.

Di tengah kebingungan tersebut, ia teringat pada kantor cabang JNE yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Sebelumnya, Ani pernah menggunakan layanan JNE untuk mengirim dokumen ke Makassar.

Pengalaman itu membuatnya mencoba mencari informasi lebih lanjut.

"Saya pernah kirim dokumen ke Makassar lewat JNE. Saya kemudian bertanya apakah bisa mengirim paket selain dokumen dan ternyata bisa. Saya pun senang," ujarnya.

Sejak mengenal layanan pengiriman JNE, Ani mulai lebih percaya diri menerima pesanan dari berbagai daerah.

Kekhawatiran mengenai pengiriman tanaman perlahan menghilang.

Ia kini dapat mengirim berbagai jenis tanaman hias maupun tanaman produktif kepada pelanggan di luar wilayahnya.

Berbagai tanaman yang dijualnya antara lain bougenville, aneka jenis keladi, jambu kristal, alpukat, hingga bibit durian hasil cangkok.

Dalam menjalankan usaha tanaman hidup, kualitas pengiriman menjadi faktor penting.

Tanaman harus tiba dalam kondisi baik agar pelanggan tetap puas.

Karena itu, pemilihan layanan logistik menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan usahanya.

"Bagi kami penjual tanaman, paket tiba dengan selamat dan tanaman tetap segar adalah kebahagiaan tersendiri. Karena itu kami harus bijak memilih jasa pengiriman," katanya.

Menurut Ani, kecepatan pengiriman menjadi salah satu alasan dirinya terus mempercayakan paket kepada JNE.

"Kalau kirim paket lewat JNE, biasanya sudah tiba dalam tiga sampai empat hari. Tanaman masih segar saat sampai tujuan. Pelanggan puas dan kami juga senang," ujarnya.

Dua tahun terakhir, Ani mulai memperluas pasarnya dengan membuka lapak di platform e-commerce.

Keputusan itu membuat jangkauan pelanggannya semakin luas.

Pesanan datang hampir setiap minggu dari berbagai daerah di Indonesia.

Aktivitas yang awalnya hanya dilakukan untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan kini berkembang menjadi sumber ekonomi utama keluarga.

Hasil penjualan tanaman membantu Ani memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Usaha tersebut juga digunakan untuk membiayai pengobatan anaknya yang membutuhkan perhatian khusus sejak lahir.

Bahkan, ia turut membantu memenuhi kebutuhan hidup kedua orang tuanya.

Perlahan, kondisi ekonominya mulai membaik. Dari hasil usaha tanaman yang dirintis dari halaman rumah, Ani kini mampu membeli sepeda listrik untuk memudahkan aktivitas sehari-hari.

Bagi Ani, keberhasilan usahanya tidak hanya ditentukan oleh kualitas tanaman yang dijual.

Akses terhadap layanan logistik yang mampu menjangkau pelanggan di berbagai daerah menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Dari sebuah desa di Kabupaten Luwu, tanaman-tanaman yang dirawat dengan penuh ketelatenan kini dapat sampai ke tangan pelanggan di berbagai penjuru Indonesia.

Di balik setiap paket yang dikirim, terdapat cerita tentang perjuangan seorang ibu tunggal yang tidak pernah berhenti berusaha demi masa depan anaknya.

(*)


Tags: JNE JNE Content Competition (JCC)

Baca juga