Balai Inklusi Sulsel Kritik Pernyataan Presiden Prabowo Soal Narasi 'Londo Ireng'
KAREBANUSA.COM, MAKASSAR – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto kembali menuai kontroversi.
Kali ini, Presiden Prabowo mengkritik akademisi, organisasi masyarakat sipil (OMS), dan jurnalis.
Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan secara langsung Presiden Prabowo dalam rangkaian acara perayaan puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7/2026).
Dalam pidato kenegaraan yang dihadiri oleh ribuan kader PKB, tokoh partai, dan undangan khusus, Prabowo Subianto menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap apa yang ia sebut sebagai "krisis relevansi dan integritas" di kalangan intelektual dan aktivis.
Poin paling menyita perhatian adalah penggunaan julukan "Londo Ireng" atau "Orang Belanda Hitam" yang disematkan oleh Presiden kepada para jurnalis, pengamat, akademisi, dan tokoh LSM.
Dalam konteks pidatonya, istilah ini merujuk pada kelompok-kelompok yang dianggap memiliki pola pikir dan perilaku seperti penjajah kolonial masa lalu, namun berkulit sama dengan rakyat Indonesia sendiri.
Prabowo menuding mereka gemar mengkritik pemerintah, mencari-cari kesalahan, dan lebih sibuk membangun narasi di media sosial atau podcast daripada memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
"Mereka memakai kostum baru seperti wartawan, pengamat, sampai LSM. Mereka ini 'Londo Ireng', sibuk menjadi buzzer dan mengkritik tanpa pernah menawarkan solusi konkret," ujar Prabowo dengan nada tinggi yang terdengar jelas hingga ke barisan belakang aula.
Ia melanjutkan dengan menuding bahwa sebagian organisasi masyarakat sipil diduga menerima pendanaan asing untuk menggiring opini publik demi kepentingan geopolitik negara lain, sehingga melemahkan kedaulatan nasional. Tidak hanya itu, kalangan akademisi juga mendapat sorotan tajam.
Prabowo mengkritik dosen dan peneliti yang dinilai lebih mahir berdebat di platform digital daripada turun ke lapangan untuk memecahkan masalah strategis seperti ketahanan pangan, energi terbarukan, dan kemandirian teknologi.
Terkait pers, Presiden menyatakan keprihatinannya atas hilangnya objektivitas sebagian media massa yang cenderung mengejar sensasi headline daripada menyajikan fakta yang berimbang dan mendidik.
Menanggapi serangkaian pernyataan kontroversi dan penggunaan julukan "Londo Ireng" tersebut, Direktur Balai Inklusi Sulsel, Abdul Rahman Daeng Gusdur, memberikan respons kritisnya.
Melalui sambungan telepon, pria yang akrab disama Daeng Gusdur itu menyatakan kekecewaan mendalam atas pendekatan dikotomis dan stigmatisasi yang dibangun oleh Istana.
Menurutnya, menganggap kritik sebagai ancaman atau bentuk ketidakloyalan adalah pandangan yang sempit dan berpotensi merusak kesehatan demokrasi Indonesia.
"Pernyataan Bapak Presiden mencerminkan ketidakpahaman mendasar terhadap esensi masyarakat inklusif," ucapnya.
"Penggunaan istilah 'Londo Ireng' adalah bentuk dehumanisasi terhadap rekan-rekan kita yang berjuang lewat pena, riset, dan advokasi."
"Dalam negara demokratis yang sehat, kritik dari akademisi dan OMS bukanlah serangan personal, melainkan mekanisme kontrol sosial yang vital untuk menjaga agar kekuasaan tidak absolut," tegas Abdul Rahman dengan nada tenang namun penuh penekanan.
Abdul Rahman menekankan bahwa konsep inklusivitas tidak boleh dibatasi hanya pada aspek suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), tetapi harus diperluas mencakup inklusi pemikiran dan keberagaman pendapat.
Ketika seorang pemimpin negara merendahkan peran pers atau menstigmatisasi kritikus sebagai agen asing atau "penjajah baru", hal itu secara sistematis menciptakan eksklusi terhadap suara-suara alternatif yang mungkin tidak sejalan dengan agenda resmi pemerintah.
"Balai Inklusi Sulawesi Selatan telah bekerja keras memastikan bahwa setiap kelompok, termasuk mereka yang marginal atau vokal menyuarakan ketidakadilan, memiliki ruang aman untuk didengar," jelas Abdul Rahman.
"Narasi yang dibangun oleh Istana seolah-olah menetapkan satu kebenaran mutlak dari pemerintah, sementara suara lain dianggap sebagai gangguan noise. Ini bertentangan total dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945," jelasnya.
Ia juga menyoroti bahaya laten dari stigmatisasi terhadap organisasi masyarakat sipil. Tudingan bahwa LSM adalah alat destabilisasi atau perpanjangan tangan asing, menurut Abdul Rahman, adalah retorika usang yang sering digunakan rezim otoriter untuk membungkam advokasi hak-hak rakyat.
Abdul Rahman mengingatkan bahwa banyak OMS di Sulawesi Selatan dan seluruh Indonesia justru berperan sebagai mitra kritis pemerintah dalam mengisi celah-celah layanan publik yang tidak terjangkau birokrasi, mulai dari pendampingan korban pelanggaran HAM, pengawasan kerusakan lingkungan, hingga edukasi literasi digital bagi masyarakat akar rumput.
"Menganggap semua kritikus sebagai musuh adalah kesalahan fatal strategi pemerintahan. Justru merekalah yang sering kali membuka mata pemerintah terhadap blind spot kebijakan yang luput dari perhatian birokrat di Jakarta," tambah Abdul Rahman.
Terkait sindiran terhadap akademisi, Abdul Rahman Daeng Gus Dur membela peran universitas sebagai institusi yang harus tetap kritis dan independen.
Ia menolak gagasan bahwa dosen atau peneliti harus tunduk sepenuhnya pada narasi pembangunan pemerintah tanpa reservasi ilmiah.
Menurutnya, akademisi memiliki tanggung jawab moral dan etika profesi untuk menjaga objektivitas ilmu pengetahuan.
Jika hasil riset mereka menunjukkan bahwa suatu kebijakan berpotensi merugikan rakyat atau tidak berkelanjutan, maka kewajiban moral mereka adalah menyuarakannya.
"Meminta akademisi untuk diam demi alasan 'stabilitas' semu adalah permintaan untuk mematikan nalar kritis bangsa," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi efektif antara pemerintah dan akademisi hanya bisa dibangun atas dasar kesetaraan, saling menghormati, dan kebebasan akademik, bukan melalui intimidasi atau penghinaan publik di forum besar.
Sikap tegas Abdul Rahman ini segera mendapat dukungan luas dari komunitas akademisi dan aktivis di Sulawesi Selatan.
Beberapa dosen senior dari Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Makassar menyatakan apresiasi terhadap keberanian Direktur Balai Inklusi Sulsel dalam meluruskan narasi yang dianggap menyesatkan dan berbahaya tersebut.
Mereka merasa bahwa pernyataan Prabowo telah menciptakan atmosfer ketakutan (chilling effect) di kalangan intelektual, di mana banyak peneliti enggan mempublikasikan temuan kritis karena takut dicap sebagai anti-pembangunan atau agen asing.
"Kami butuh pemimpin yang mau mendengarkan data dan fakta, bukan yang memerintahkan untuk diam. Pak Abdul Rahman mewakili suara hati banyak akademisi di Indonesia Timur yang merasa dilecehkan integritasnya," komentar salah satu profesor sosiologi yang hadir dalam diskusi tertutup pasca-wawancara tersebut.
Di sisi lain, reaksi dari pendukung pemerintah di Makassar terlihat beragam. Sebagian memang mengapresiasi ketegasan Prabowo dalam menertibkan apa yang mereka sebut sebagai "oposisi yang tidak konstruktif" dan terlalu politis.
Namun, banyak warga sipil biasa yang merasa bingung dengan polarisasi yang semakin tajam. Bagi mereka, isu inklusivitas yang digagas oleh Balai Inklusi Sulsel lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari, di mana mereka membutuhkan akses layanan publik yang adil tanpa diskriminasi, bukan sekadar debat ideologis elit di Jakarta.
Abdul Rahman Daeng Gus Dur juga menyinggung aspek yuridis dalam tanggapannya. Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 secara eksplisit menjamin kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pikiran.
Dengan demikian, upaya untuk membatasi ruang gerak OMS atau merendahkan peran pers melalui retorika kekuasaan adalah pelanggaran terhadap hak-hak konstitusional warga negara. "Demokrasi kita mahal harganya dan diperjuangkan dengan darah.
Jangan sampai kita kembali ke era di mana suara rakyat hanya didengar jika sesuai dengan selera penguasa. Inklusi sejati berarti mendengar yang suka maupun yang tidak suka, selama itu berada dalam koridor hukum," pungkasnya.
(*)
Tags: Abdul Rahman Balla Inklusi Sulawesi Selatan Londo Ireng Prabowo Subianto
Baca juga
- Opini: Di Balik Kemegahan Tugu Ujung Aspal, Jeritan Abrasi Selayar
- PPDB 2026 Makassar Dimulai, Balla Inklusi Sulsel Minta Sekolah Tak Tolak Siswa Difabel
- Dasco Ungkap Isi Pertemuan Luhut dan Chatib Basri dengan Presiden Prabowo, Bahas Strategi Pertumbuhan Ekonomi
- Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Balla Inklusi Sulsel Soroti Sentralisasi Pengawasan Lingkungan dan Dampaknya bagi Difabel
- Wali Kota Makassar Saksikan Pemotongan Sapi Kurban Bantuan Presiden Prabowo di Masjid At-Taqwa
