KAREBANUSA.COM, KEI BESAR – Kehadiran Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II membawa harapan baru bagi masyarakat di Kepulauan Kei, Maluku, yang selama ini menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan, khususnya untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis.

Salah satu warga yang merasakan manfaat layanan tersebut adalah Rindung (60), warga Desa Wakol, Kei Besar, yang selama ini berjuang mencari pengobatan bagi anaknya yang menderita penyakit kulit.

Sebelum rumah sakit terapung itu hadir, Rindung beberapa kali membawa anaknya berobat ke puskesmas di Tual, Kei Kecil, tetapi kondisinya tidak kunjung membaik karena keterbatasan layanan dokter spesialis kulit.

“Sudah tiga kali berobat tapi tidak ada perubahan sama sekali karena di sana tidak ada dokter spesialis,” ucap Rindung yang datang menggunakan ojek menuju rumah sakit terapung.

Kehadiran RSK Nusa Waluya II menjadi kesempatan bagi Rindung untuk mendapatkan penanganan medis yang selama ini sulit dijangkau.

"Hari ini alhamdulillah dokter di sini bilang anak saya sudah lebih baik kondisinya," tutur Rindung setelah selesai menemani anaknya berobat di RSK.

Rumah sakit terapung tersebut dioperasikan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) dengan dukungan Pertamina Group, yakni PT Pertamina (Persero), PT Pertamina International Shipping (PIS), dan Indonesia Healthcare Corporation (IHC).

Relawan dokter dari IHC, dr. Nunung Agustiarini, menjelaskan bahwa penyakit kulit menjadi salah satu keluhan kesehatan yang banyak ditemukan pada masyarakat setempat.

Selain itu, tim medis juga menjumpai berbagai kasus yang membutuhkan tindakan medis, tetapi belum tertangani secara optimal akibat keterbatasan infrastruktur kesehatan di Kepulauan Kei.

“Kalau penyakit yang umum ditemukan di rumah sakit kapal ini, selama saya di poli, kebanyakan infeksi saluran pernafasan," ucap Nunung. 

"Kemudian di sini juga banyaknya kasus bedah yang tidak tertangani. Jadi kalau kunjungan itu, lumayan banyak kasus-kasus bedah." 

"Kemudian kasus-kasus kulit, kemudian kasus-kasus infeksi biasanya, dan penyakit degeneratif seperti hipertensi, kemudian diabetes melitus itu sangat banyak di sini,” terang Nunung.

Besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan terlihat dari jumlah penerima manfaat RSK Nusa Waluya II sejak mulai beroperasi pada September 2026.

Hingga saat ini, rumah sakit kapal tersebut telah memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada lebih dari 6.000 penerima manfaat di Kepulauan Kei, mencakup pemeriksaan umum, rawat inap, pelayanan dokter spesialis, hingga tindakan operasi.

Berbeda dengan pola pelayanan yang mengharuskan masyarakat mendatangi fasilitas kesehatan di wilayah lain, RSK Nusa Waluya II membawa tenaga medis dan layanan kesehatan lebih dekat ke lingkungan tempat tinggal warga.

Direktur RSK Nusa Waluya II, dr. Tasia Risma Lidya Simaremare, mengatakan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat cukup beragam, mulai dari pemeriksaan umum hingga tindakan medis yang membutuhkan fasilitas dan tenaga kesehatan khusus.

"Ada yang penyakitnya sudah cukup lama, sudah bertahun-tahun, tapi mungkin karena fasilitas kesehatannya yang tidak memadai, sehingga mereka belum berobat," jelasnya.

Menurut Tasia, pelayanan kesehatan di wilayah tersebut juga menghadapi tantangan dari sisi edukasi, perbedaan bahasa, dan kultur masyarakat, serta keterbatasan akses pendidikan.

Kehadiran rumah sakit kapal diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh penanganan medis tanpa harus selalu menempuh perjalanan jauh menuju fasilitas kesehatan rujukan di luar wilayah tempat tinggal mereka.

Dukungan terhadap operasional RSK Nusa Waluya II merupakan bagian dari komitmen tanggung jawab sosial Pertamina Group dalam memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan.

Bagi PIS, kolaborasi dengan doctorSHARE dalam mendukung rumah sakit kapal ini merupakan kerja sama ketiga perusahaan tersebut.

Kolaborasi itu sejalan dengan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PIS bertajuk BerSEAnergi untuk Laut, yang tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan laut, tetapi juga peningkatan kualitas hidup masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada wilayah pesisir dan kepulauan.

Kerja sama PIS dan doctorSHARE telah berlangsung selama tiga tahun dengan jangkauan pelayanan sebelumnya meliputi Sorong dan Raja Ampat, Papua Barat Daya.

“Kami bangga akan kerja sama kami dengan doctorSHARE dalam beberapa tahun terakhir. Melalui kolaborasi ini, PIS berharap kehadiran layanan kesehatan terapung dapat membantu mengurangi hambatan geografis dalam memperoleh layanan medis, sekaligus membuka peluang peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan Indonesia,” ujarnya, saat melakukan kunjungan di rumah sakit kapal.

Sebelum menjangkau Kepulauan Kei, RSK Nusa Waluya II bersama PIS juga telah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Pada 2024, rumah sakit kapal tersebut menangani 3.370 pasien di Sorong, Papua Barat Daya, sedangkan pada 2025 melayani 4.099 pasien selama 60 hari di Waigeo, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Melalui layanan kesehatan terapung ini, kolaborasi doctorSHARE dan Pertamina Group diharapkan dapat terus mengurangi kesenjangan akses layanan medis sekaligus memperluas kesempatan masyarakat kepulauan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

(*)


Tags: doctorSHARE kesehatan masyarakat 3T Pertamina International Shipping PIS PT Pertamina Rumah Sakit Kapal Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II rumah sakit terapung

Baca juga