Pakai 80 Persen Coklat Lokal, PT Mars Komitmen Kembangkan Pertanian Kakao di Sulsel
Direktur Corporate Affairs PT Mars Symbioscience Indonesia, Arie Nauvel Iskandar (kiri) memberikan penjelasan terkait produktivitas /foto: UbayKAREBANUSA.COM, Makassar - Sebagai perusahaan yang menghasilkan berbagai produk berbahan kakao (coklat), PT Mars Symbioscience Indonesia akan terus mengembangkan kualitas pertanian coklat di Sulsel.
Maklum saja, kapasitas pabrik PT Mars di KIMA, Makassar, sebanyak 24 ribu ton dengan rata-rata produksi 14-17 ribu ton per tahun.
Sebanyak 80 persen pasokan biji coklat berasal dari petani lokal Sulsel dan Sultra.
"Serapan biji coklat dari petani sekitar 80 persen atau sekitar 12 ribu ton per tahun. Sisanya kita impor," kata Direktur Corporate Affair PT Mars Symbioscience Indonesia, Arie Nauvel Iskandar.
Biji coklat ini dipasok dari petani yang ada di Luwu Raya, Sulsel, dan juga Kolaka Utara di Sultra.
Karena itu, kata Arie, PT Mars tetap konsisten membantu pemerintah untuk mengembangkan pertanian coklat, khususnya di Sulsel.
Sementara itu, data dari Dinas Perkebunan Sulsel, sejak 8 tahun terakhir, produksi kakao terus menurun 50-70 persen.
Menurutnya produksi kakao ini karena masalah kesuburan tanah, tanaman tua, ketersediaan benih berkualitas, hama, dan SDM/petani.
"Walaupun sudah ada beberapa sumber benih yang ditunjuk pemerintah, saat ini dalam realitas masih belum cukup, jadi perlu ada peningkatan. Kemudian bagaimana untuk budidaya kakaonya juga perlu ditingkatkan," ucap Arie.
Arie mengatakan pihaknya terus mengembangkan produktifitas kualitas dengan menjalin kerjasama dengan Kementerian Pertanian (Kementan). Selain itu, PT Mars juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dengan membuat kurikulum yang memperkenalkan kakao dan budi daya kepada anak didik di sekolah.
"Karena kita lihat sekarang anak muda tidak begitu menyukai pertanian. Pertanian itu kurang begitu diterima dengan baik oleh milenaila. Karena kesan kotor, bau, dan miskin. Jadi PT Mars mencoba untuk lakukan inisiatif dengan advokasi ke sekolah-sekolah, dan bikin kurikulum sendiri yang bekerja sama dengan foundation dari Australia," papar Arie.
Arie mengatakan, pihaknya juga telah bekerja sama dengan sejumlah asosiasi yang berafiliasi dengan kakao.
Langkah terbaru yang dilakukan PT Mars untuk mengembangkan produktivitas kakao di Sulsel dengan mendirikan pusat riset di Kabupaten Pangkep pada tahun 2017 lalu. Saat ini, prosesnya sudah mencapai 70 persen. Diharapkan pusat riset ini sudah rampung tahun depan.
"Saat ini sudah ada beberapa kegiatan dilakukan di sana, seperti sudah mulai dilakukan penanaman, biji kakao yang untuk riset sudah ditaman dan sudah besar. Itu ditanam sudah sejak akhir 2017," kata Arie
"Fasilitas sudah jadi, dari mulai infrastruktur gedung, perkantoran , akomodasi, dan juga fasiltas untuk laboratorium. Pusat riset ini akan menggunakan teknologi mutakhir," paparnya.
Pusat riset di Pangkep ini melengkapi yang sudah ada sebelumnya di Luwu Timur.
Diharapkan, dengan adanya pusat riset ini, produktivitas kakao di Sulsel bisa makin meningkat dan makin berkualitas.
Baca juga
- Universitas Bosowa Lanjutkan Benchmarking Global ke Radboud University Belanda
- MIWF 2026: Petakan Kolaborasi Literasi Prancis-Indonesia
- 16 Lapak di Lahan Fasum Kampung Barawajah Panakkukang Ditertibkan
- Pemkot Makassar Perkuat Dukungan untuk MIWF 2026, Appi Tegaskan Komitmen Bangun Ekosistem Budaya
- 178 Lapak di Mariso Ditertibkan, Berdiri di Lahan Fasilitas Umum Selama 53 Tahun, Pemilik Proaktif

