Cegah Stunting, YAICI-PP Muslimat NU: SKM Tidak Cocok Untuk Balita
Talkshow tentang kesehatan anak yang digelar YAICI dan Muslimat NU/foto: AdriKAREBANUSA.COM, Makassar - Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Di Sulawesi Selatan, stunting pun masih menjadi persoalan serius yang harus ditangani pemerintah dan masyarakat setempat.
Sulawesi Selatan bahkan menempati urutan ke-4 yang memiliki prevalensi stunting tinggi di Indonesia, setelah NTT, NTB dan , Sulawesi Tenggara, yaitu Baduta mencapai 29,9 persen dengan kategori 17,1 persen pendek dan 12,8 persen sangat pendek. Sementara Balita 30,1 persen. Berdasarkan sebaran wilayah, stunting tertinggi ditemukan di Kabupaten Enrekang dan Bone.
Penyebabnya adalah bukan hanya faktor kemiskinan atau daerah yang terisolir, tapi juga karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan makanan dan minuman yang bergizi untuk anak. Fakta pengetahuan masyarakat yang rendah terlihat dari banyaknya kasus gizi buruk akibat kesalahan orang tua memberi asupan makanan pada anak.
Karena keresahan ini pula, Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) bersama Pengurus Pusat Muslimat NU menjalin kerjasama melaksanakan edukasi bijak mengkonsumsi susu kental manis di di sejumlah kota, termasuk di Makassar. Edukasi diadakan dalam bentuk talkshow dan kreasi makanan sehat bergizi.
Di Kota Daeng, kegiatan ini digelar di Aula Krida Normal Dinas Kesehatan Sulsel, Kamis (8/8/2019).
"Salah satunya ada kebiasaan orang tua memberikan balitanya Susu Kental Manis (SKM) sebagai pengganti ASI. Padahal, SKM itu tidak untuk diminum langsung pada bayi," kata Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, di sela-sela diskusi.
Menurut pemaparan Arif, SKM memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20 gram persekali saji/1 gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih rendah dari susu lainnya. Padahal, peruntukan SKM hanyalah sebagai bahan tambahan makanan dan minuman atau topping.
"Karena itu, perlu pengawasan terhadap promosi dan penggunaan SKM oleh masyarakat," jelas Arif Hidayat.
"Kita ingin mengedukasi dengan melakukan intervensi langsung kepada masyarakat bahwa SKM itu tidak baik untuk bayi, bisa menyebabkan diabetes, gizi buruk, dan juga stunting," katanya.
Mengacu pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, yang menunjukan adanya perbaikan status gizi pada balita di Indonesia, diantaranya proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen.
Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6 persen (Riskesdas 2013) menjadi 17,7 persen. Meski demikian, WHO masih mengkategorikan Indonesia sebagai Negara darurat gizi buruk. Sebab ambang batas toleransi stunting yang ditetapkan WHO adalah 20 persen dari jumlah keseluruhan balita.
Penyebab stunting bermacam-macam dan bisa terjadi sejak dalam kandungan, bisa juga karena infeksi, asupan gizi yang kurang, anemia, dan lainnya.
Stunting bisa dicegah melalui perilaku hidup sehat orang tua, khusus si ibu.
Si ibu harus menjadiga kesehatan melalui asupan yang seimbang dan rajin olahraga, perbanyak konsumsi sayur dan buah, serta hindari alkohol dan merokok.
"Tujuan pemerintah ingin menciptakan generasi emas. Namun, bagaimana bisa menciptakan generasi emas jika anak balita kita saat ini tidak diperhatikan gizinya, mengkonsumsi gula yang tinggi yang berpengaruh pada kesehatan anak," ucapnya.
Fungsional Ahli Madya Farmasi dan Makanan Balai POM Provinsi Sulawesi Selatan, Adila Pababbari Apt MM, menyebutkan bahwa iklan produk SKM berpengaruh terhadap energy serta adanya anak-anak yang meminum SKM secara langsung, padahal tidak boleh.
Ketua VII PP Muslimat NU Bidang Kesehatan dan Sosial, dr Erna Yulia Soefihara, menambahkan bahwa pihaknya ikut andil untuk memberikan edukasi pada masyarakat tentang gizi anak dan menghindari konsumsi SKM.
"Melalui diskusi ini, kita harapkan anggota Muslimat NU meneruskannya kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga angka anak stunting dan gizi buruk bisa ditekan untuk menciptakan anak generasi cemerlang," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Wilayah Muslimat NU Sulsel, Dr A Majdah M Zain MSi. Ia menghimbau agar ibu sebagai pendidik utama di keluarga harus sehat dan juga cerdas. Kesehatan keluarga harus dimulai terlebih dahulu dari ibu yang sehat.
Ibu juga harus teredukasi tentang gizi agar tidak salah memberi asupan gizi, seperti susu kental manis yang seharusnya adalah topping makanan, jangan sampai diberikan sebagai minuman untuk anak-anak.
"Tugas kita adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yangs ehat, kuat dan cerdas sehingga bonus demografi dimasa mendatang menjadi beban bagi bangsa kita," jelas Majdah.
Tags: Makassar Muslimat NU Stunting Susu kental manis YAICI
Baca juga
- Pemkot Makassar Gandeng LAN RI Kaji TPP ASN dan Sistem Pengupahan PJLP
- Promo Juni 'Satset Pakai Honda': DP mulai Rp 700 Ribuan Hingga Gratis Angsuran 3X
- 10 Besar Calon Pimpinan Baznas Makassar Masuk Tahap Verifikasi Faktual, Appi Tekankan Integritas dan Profesionalisme
- Hotel Claro Makassar Gelar Nobar Piala Dunia, Gratis Nonton Babak Penyisihan
- FKIK Unismuh Makassar Jalani Asesmen Lapangan LAM-PTKes untuk Prodi Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan
