PT Vale Wujudkan Tambang Minim Emisi untuk Kelestarian Bumi
KAREBANUSA.COM, Makassar
- Pemanasan global yang disebabkan karena efek gas rumah kaca menjadi pergumulan
bangsa-bangsa di dunia. Bagaimana tidak, suhu di Bumi naik secara signifikan
yang ditandai dengan hal-hal antara lain mencairnya es di kutub, rusaknya
ekosistem, naiknya ketinggian permukaan air laut, dan perubahan iklim yang
ekstrim.
Salah satu penyebab perubahan iklim di dunia adalah emisi karbon, bersama dengan emisi gas rumah kaca yaitu nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4), serta freon (SF6, HFC dan PFC). Emisi gas yang berlebihan dapat menyebabkan pemanasan global atau efek rumah kaca. Hal ini mengakibatkan peningkatan suhu di bumi secara signifikan.
Proses ini dapat berdampak pada lingkungan hidup, kesehatan manusia, hingga menciptakan ketidakstabilan ekonomi. Intinya, Bumi akan “rusak” lebih cepat jika tidak segera “diobati”.
Meningkatnya emisi karbon menjadi kekhawatiran yang signifikan bagi bangsa-bangsa di dunia, terutama China, Amerika Serikat, Rusia, India, Uni Eropa, dan Jepang sebagai penghasil emisi karbon terkemuka dunia.
Sekitar enam tahun lalu, tepatnya 12 Desember 2015, Persetujuan Paris (Paris Agreement) diadopsi di Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Persetujuan ini kemudian dinegosiasikan oleh 195 perwakilan negara-negara pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-21 di Paris, Perancis.
Dilansir dari Wikipedia, satu satu tujuan dari kesepakatan tersebut adalah menjaga ambang batas suhu bumi di bawah 2 derajat celcius sebelum Revolusi Industri dan menahan laju kenaikan suhu hingga 1.5 derajat celcius.
Sampai Juli 2021, Perjanjian Paris telah ditandatangani oleh 197 negara, termasuk Indonesia, dan diratifikasi oleh 195 negara membuat The Paris Agreeement atau Persetujuan Paris. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat itu, Dr Siti Nurbaya, mewakili Presiden Jokowi menandatangani Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim pada Upacara Tingkat Tinggi Penandatanganan Perjanjian Paris (high-level Signature Ceremony for the Paris Agreement) yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, pada hari Jumat, 22 April 2016 lalu.
Bahkan, pada 29 Oktober 2021, Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Pemerintah Jokowi akan menurunkan emisi karbon 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030.
Salah satu penyumbang emisi karbon adalah pertambangan, tidak terkecuali PT Nikel Indonesia Tbk, salah satu tambang nikel di Indonesia.
Memang, keberadaan pertambangan nikel memiliki berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya adalah penurunan kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi pencemar udara. Berbagai jenis pencemar diemisikan dari kegiatan pertambangan seperti partikulat, NOx, SO2, SO3+H2SO4, debu nikel, dan H2S.
PT Vale Indonesia Tbk sadar betul akan hal itu. Karenanya, PT Vale melakukan berbagai cara untuk menekan emisi. Tingginya porsi pertambangan perlu diimbangi dengan kegiatan yang berwawasan lingkungan sejalan dengan concern dunia yang saat ini tengah fokus pada penanganan climate change (perubahan iklim).
Bangun Baghouse
Emisi utama yang dihasilkan dari proses produksi adalah SO2 (sulfur dioksida). Emisi SO2 berpotensi menimbulkan hujan asam dan dihasilkan dari pemakaian HSFO pada tanur pereduksi.
Perseroan berupaya menurunkan kadar SO2 sebagai langkah mengurangi emisi. PT Vale membangun fasilitas penangkap emisi debu (baghouse) dan pengedap debu teknologi listrik statis electrostatic precipitator (ESP).
Perseroan telah menyusun rencana dan target untuk meningkatkan stabilitas dan baku mutu emisi SO2 dengan menurunkan intensitas secara masif, yakni dari 0,86 kg SO2/kg Ni menjadi 0,80 kg SO2/kg Ni pada tahun 2019.
Perseroan bersama perwakilan Vale Base Metal di Kanada membentuk sebuah panel tim khusus untuk memastikan rencana dan target reduksi SO2 dapat dicapai. Tim tersebut bernama SERP (SO2 Emission Reduction Program). Setiap triwulan tim SERP meninjau kinerja intensitas emisi SO2 dan proyek-proyek di dalamnya.
Penggantian HSFO
Perseroan juga melanjutkan program penggantian HSFO dengan batubara pada tanur pengering. Penggantian HSFO dimaksudkan untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi SO2. Dari hasil pemantauan dan pengukuran yang dilakukan selama tahun 2017, diketahui emisi rata-rata SO2 adalah 0,75 kg SO2/kg Ni, sehingga telah memenuhi ambang batas sebesar 0,86 SO2/kg Ni seperti diatur dalam Permen LH No. 4 Tahun 2014.
Nilai emisi rata-rata SO2 pada tahun 2017 lebih tinggi dibanding emisi rata-rata SO2 pada tahun 2016 sebesar 0,72 kg SO2/kg Ni.
Pengukuran Kualitas Cerobong
Perseroan juga melakukan pemantauan dan pengukuran kualitas cerobong tungku pengering, tanur pereduksi, dan tanur pelebur. Pemantauan dan pengukuran dilakukan laboratorium independen terakreditasi, sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 4/2014 Tentang Baku Mutu Emisi.
Dari hasil pemantauan dan pengukuran selama tahun 2017, parameter partikulat Perseroan masih memenuhi baku mutu emisi dari kegiatan pengolahan nikel.
Pembangkit Listrik Tenaga Air
Sejak awal beroperasi PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) telah memegang visi sebagai perusahaan tambang yang peduli terhadap kelangsungan alam. Memproduksi nikel dengan penerapan dan pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan termasuk dalam menciptakan energi bagi kebutuhan produksi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Energi dibutuhkan untuk kegiatan operasional tambang, pengangkutan material tambang, dan pengolahan di fasilitas pemurnian. Kebutuhan energi dipenuhi dari pemakaian bahan bakar dan pasokan listrik dari pembangkit.
Bahan bakar yang digunakan meliputi High Sulphur Fuel Oil (HSFO) dan High Speed Diesel (HSD) dan digunakan untuk operasional alat berat dan kendaraan pengangkut. Selain itu, juga ada batubara untuk tanur pengering dan HSFO untuk tanur pereduksi. Listrik dimanfaatkan sebagai sumber energi tanur pemurnian dan juga kegiatan pendukung lain.
Sepanjang lima dekade, PT Vale telah membangun dan mengoperasikan tiga PLTA berkapasitas total 365 Megawatt. Penggunaan energi bersih sudah dimulai PT Vale di tahun-tahun awal Perusahaan beroperasi.
Keberadaan tiga PLTA tersebut mampu menurunkan ketergantungan perusahaan terhadap bahan bakar fosil untuk menyuplai energi ke pabrik pengolahan.
PT Vale memiliki tiga PLTA yakni Larona, Balambano, dan Karebbe. Ketiga PLTA ini berfungsi sebagai pamasok tenaga listrik untuk mengoperasikan furnace (tanur peleburan dan pengolahan bijih nikel) di pusat pengolahan (process plant) di Sorowako.
Untuk sumber tenaganya, PLTA mendapatkan dari tiga danau yang berada di Luwu Timur, yakni Matano, Mahalona, dan Towuti yang mengalirkan air melalui Sungai Larona menuju turbin. Sedangkan untuk mengontrol level air Danau Matano, diatur melalui pintu-pintu air Petea. Bangunan ini terdiri atas 6 set pintu air yang dioperasikan secara manual berdasarkan kondisi level Danau Matano dan Towuti.
Direktur Environment and Permit Management PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Adli Az Lubis, mengatakan bahwa ketiga PLTA ini telah dimanfaatkan seluruhnya, tidak hanya untuk perseroan tapi juga kepada masyarakat melalui PLN.
“Power yang di-generate dari PLTA sebesar 365 MW dan power tersebut telah dimanfaatkan seluruhnya untuk kebutuhan operasi. Sekitar 10,7 MW telah di donasikan kepada masyrakat melalui PLN,” katanya.
Adanya PLTA ini, PT Vale mendukung usaha pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dari aktivitas pertambangan. Tiga unit PLTA ini berkontribusi terhadap 36 persen total energi yang dibutuhkan perusahaan untuk beroperasi. Pengoperasian 3 unit PLTA tersebut mampu mengurangi emisi CO2 lebih dari 1 juta ton CO2eq setiap tahun.
Kendaraan Listrik
PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) juga mewujudkan komitmen praktik pertambangan berkelanjutan secara konsisten untuk mencapai target net zero emissions pada 2050 mendatang, sekaligus sebagai upaya menjaga kelestarian Bumi. Salah satu langkah yang terangkum dalam roadmap agenda perusahaan adalah program uji coba electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik.
Pertengahan Januari lalu, PT Vale menggelar uji coba perdana kendaraan listrik di area operasional Mobile Equipment Maintenance (MEM) Gunung Batu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Direktur Environment and Permit Management PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Adli Az Lubis, menjelaskan bahwa saat ini PT Vale baru melakukan uji coba satu unit EV yang diproduksi oleh Hyundai.
PT Vale sedang melakukan studi mengenai konversi kendaraan LV (Light Vehicle) berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik, sembari menunggu regulasi resmi dari Pemerintah Indonesia terkait modifikasi tersebut.
Selain itu, PT Vale juga sedang dalam tahap pembelian satu unit truk listrik dari China dengan kapasitas 70 ton dan uji coba unit tersebut akan dilakukan pada triwulan ketiga tahun ini.
“Satu u Unit electric truck dengan kapasitas 70 ton akan on site di Sorowako pada bulan Juni dan proses trial akan mulai dilakukan pada periode triwulan ketiga 2022,” ucapnya.
Ia menambahkan, PT Vale memiliki sejumlah inisiatif transisi energi untuk mengurangi emisi karbon sebesar 33 persen pada 2030. Selain pemakaian kendaraan listrik, PT Vale juga akan melakukan penggantian bahan bakar pada proses pengolahan nikel dari batu bara menjadi gas alam cair (LNG), serta penggunaan biomass sebagai reductant di tanur reduksi (reduction kiln).
“Melalui berbagai upaya tersebut, PT Vale bermaksud mengampanyaken green mining, sekaligus mewujudkan ambisi menjadi pemimpin dalam pertambangan berkelanjutan. Kami berharap penggunaan kendaraan listrik dapat berkontribusi dalam mencapai target PT Vale pada tahun 2030 dan sekaligus mendukung agenda net zero emissions pada tahun 2050,” kata Adli beberapa waktu lalu.
Komitmen PT Vale untuk ikut berkontribusi menekan emisi karbon diungkapkan sang bos, Febriani Eddy, pada Conference of the Parties (COP26) dan Pavilliun Indonesia yang dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, akhir 2021 lalu. COP26 merupakan ajang perhelatan perubahan iklim yang mengumpulkan ratusan pemimpin dunia dengan komitmen untuk menetapkan target pengurangan emisi atau dekarbonisasi.
Menurut Febriani Eddy, sangat penting bagi industri pertambangan untuk bertransformasi guna membangun kepercayaan, tumbuh lebih kuat, dan mencapai hasil yang berkelanjutan.
"Saya ingin menggunakan momen ini untuk menegaskan kembali komitmen Vale untuk menjadi industri pertambangan, yang didorong oleh keberlanjutan dan bekerja untuk mencapai target ambisius Net Zero Emission pada tahun 2050,"katanya saat menjadi pembicara dalam forum Business Leadership dengan mengangkat tema " Supporting Ambitious Target Achievement on GHG Emision Reduction".
PT Vale Indonesia telah melaksanakan pengurangan emisi karbon karena hal ini menjadi bagian solusi untuk perubahan iklim.
Sejak beroperasi 53 tahun lalu, PT Vale Indonesia Tbk sangat mendukung peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui praktik pertambangan yang berkelanjutan.
Tak hanya itu saja, pada operasional pabrik di Blok Sorowako telah diterapkan penggunaan teknologi electric boiler, dan pemanfaatan biodiesel B30. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai target Net Zero Emissions pada 2050.
“Perseroan membuat komitmen publik yang sangat ambisius untuk mengurangi emisi karbon terkait dengan kegiatan penambangan, pengolahan, dan pada akhirnya, penggunaan produk kami. Tujuan kami adalah mengurangi emisi sebesar 30 persen paling lambat pada 2030 dan menjadi net zero emissions pada 2050. Hal ini sejalan dengan Paris Agreement yang telah ditandatangani Vale pada 2019 silam,” kata Febriany Eddy.(*)
Laporan: Apriani Landa
Tags: emisi karbon Persetujuan Paris PT Vale PT Vale Indonesia Tbk
Baca juga
- PT Vale Raih Penghargaan dari Pemprov Sulteng atas Kontribusi Pajak dan Dukungan PAD
- PT Vale dan Pemkab Luwu Timur Tuntaskan Sengketa Lahan Old Camp Sorowako, 886 Warga Terima Distribusi Lahan
- PT Vale Panen Padi Berkelanjutan di Kolaka, Produktivitas Tembus 6,9 Ton dari Lahan Organik
- Konflik Timur Tengah: PT Vale Pastikan Operasional Tetap Jalan, Lakukan Efisiensi dan Inovasi
- PT Vale Tegaskan Industri Tambang Harus Jadi Solusi di Tengah Tekanan Harga Nikel Global

