KAREBANUSA.COM, Bandung - PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis), mengadakan simposium dalam rangka World Immunization Week 2024 bersama IDAI Jabar (Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Jawa Barat). 

Simposium bertema Humanly Possible: Immunization for All ini secara khusus membahas solusi influenza pada anak. Saat ini, influenza pada anak merupakan masalah kesehatan global serius dengan tingginya angka kasus dan kematian setiap tahun. 

Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Ridwan Ong, mengatakan, fokus Kalventis sebagai unit bisnis Kalbe Farma adalah upaya pencegahan penyakit dengan menyediakan vaksin yang berkualitas. Salah satunya, vaksin flu quadrivalent. 

"Selama 25 tahun, kami sudah menyediakan vaksin flu di Indonesia dan melindungi jutaan masyarakat dari flu, penyakit yang sering kali menyerang anak-anak, dewasa, maupun lansia. Kami berkomitmen mengedukasi masyarakat tentang kesehatan yang sesuai dengan inisiatif keberlanjutan Kalbe, Bersama Sehatkan Bangsa," kata Ridwan.

Pemberian imunisasi adalah langkah penting sebab imunisasi adalah investasi kesehatan bagi bayi dan balita, karena dapat mencegah berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). 

Dr dr Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim SpA(K) MKes MMRS selaku Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, mengatakan, hal ini juga penting untuk diketahui masyarakat agar masyarakat dapat mendukung pelaksanaan program imunisasi. 

"Salah satu tantangan yang ditemukan adalah masih kurangnya pemahaman tentang manfaat imunisasi, terutama imunisasi influenza dan kerugian ekonomi akibat kecacatan atau kematian yang timbul apabila anak yang berada di lingkungan sekitar tidak mendapatkan imunisasi lengkap,” ungkap dr Dzulfikar.

Influenza merupakan salah satu penyakit yang dapat menyerang siapa pun, terutama anak-anak, dan sering kali disepelekan. 

Namun, kejadian berulang dapat terjadi pada penyakit yang dapat menular melalui droplet ini. 

ILI (Influenza Like Illness) merupakan kasus rawat jalan dengan gejala batuk dan demam ?38.5°C, sedangkan SARI (Severe Acute Respiratory Infection) merupakan kasus rawat inap dari infeksi pernafasan. Keduanya dapat disebabkan oleh virus Influenza.

Tahun 2023 di Jawa Barat, persentasi ILI yang disebabkan virus Influenza mencapai 70,5% dan SARI yang disebabkan virus influenza juga signifikan, mencapai 30,2 persen. 

Pemberian vaksin flu dapat menjadi solusi memberikan perlindungan ekstra, hal ini sesuai rekomendasi dunia melalui WHO (World Health Organization) dan juga secara nasional melalui rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). 

“Kasus influenza yang ditemukan pada anak dan dewasa dapat menyebabkan komplikasi pada paru (pneumonia) yang telah terkonfirmasi dengan PCR," ungkap Prof dr Cissy B Kartasasmita MSc SpA(K) PhD.

"Pasca pandemi COVID-19, diperlukan penanganan yang optimal berupa pengawasan yang ketat terhadap peningkatan penyakit pernapasan global, termasuk influenza, serta tindakan pencegahan seperti vaksinasi, penggunaan masker, menjaga jarak, dan kebiasaan hidup bersih, terutama di Indonesia di mana influenza beredar sepanjang tahun,” tambahnya.

Sementara Dr dr Nastiti Kaswandani SpA(K) menjelaskan, IDAI merekomendasikan vaksin influenza untuk anak, yaitu diberikan mulai usia enam bulan yang diulang setiap tahun. 

"Pada anak usia 6 bulan sampai 8 tahun, dua dosis dengan antigen yang sama dan interval minimal 4 minggu pada imunisasi pertama. Kemudian, pada anak usia di atas 9 tahun, imunisasi pertama sebanyak satu dosis,” tuturnya. 

Berdasarkan hasil pengolahan data surveilans ILI di Puskesmas Jawa Barat tahun 2023, total jumlah kasus ILI terjadi paling banyak pada populasi anak usia 5-15 tahun, dan dapat terjadi pada kelompok usia lain.

Sedangkan, kasus SARI tertinggi, terjadi pada anak kurang dari lima tahun, namun juga marak terjadi pada populasi lansia, maupun dewasa. 

Oleh karena itu, pengawasan atau surveilans terhadap kasus influenza klinis dan infeksi pernafasan berat perlu terus dilakukan.

“Sejalan dengan diperlukannya surveilans untuk kasus influenza, maka perlu dilakukan surveilans ILI-SARI secara internasional dan nasional seperti Indonesia. Di Indonesia, surveilans meliputi 39 Puskesmas, 35 RS, 14 KKP, 13 Laboratorium regional, dan 15 jejaring Lab WGS,” tambah Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat (P2P Dinkes Jabar), dr Rochady Hendra Setya Wibawa SpOG MKes. 

“Vaksin influenza pada anak direkomendasikan dan terbukti efektif untuk menurunkan risiko kunjungan ke IGD, rawat inap, dan kejadian mengancam jiwa yang diasosiasikan dengan influenza. Dalam upaya pencegahan, vaksin flu quadrivalent memiliki kelebihan dibandingkan vaksin flu trivalent sebab vaksin flu quadrivalent mencakup perlindungan yang lebih lengkap terhadap dua galur influenza A dan dua lineage influenza B,” tambah Dr dr Nastiti Kaswandani SpA(K).

Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia. 

Pertama, masyarakat kurang menyadari bahaya penyakitnya dan kurang memahami manfaat serta keamanan vaksin, sehingga lebih takut KIPI daripada bahaya penyakitnya. 

Kedua, proses sosial seperti informasi di media sosial kurang menjelaskan bahaya penyakit serta manfaat dan keamanan imunisasi. 

Selain itu keputusan oleh kepala keluarga yang kurang memahami bahaya penyakit dan manfaat imunisasi, serta keyakinan agama. 

Faktor selanjutnya, dipengaruhi isu praktis antara lain  tenaga profesi kesehatan lebih banyak menjelaskan jadwal imunisasi tetapi kurang banyak menjelaskan bahaya penyakit dan manfaat imunisasi. 

Selain itu, faktor kemudahan dan kenyamanan untuk mendapat layanan imunisasi,  serta kemampuan ekonomi juga berpengaruh pada cakupan imunisasi. 

Oleh karena itu, tenaga profesi kesehatan perlu lebih masif menyebarkan bahaya penyakitnya, manfaat dan keamanan imunisasi. 

“Profesi kesehatan paling dipercaya untuk edukasi imunisasi, sehingga harus secara aktif menyebarkan pesan-pesan yang ringkas dan jelas untuk menghilangkan keraguan orang tua atau masyarakat terkait manfaat imunisasi. Misalnya melalui berbagai metode kreatif seperti media sosial WhatsApp Group, Instagram, Facebook, Tiktok yang dapat digunakan sebagai sarana edukasi masal,” jelas Prof Dr dr Soedjatmiko SpA (K) MSi.

(*)


Tags: Influenza Kalbe Farma PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis)

Baca juga