KAREBANUSA.COM, Makassar - Universitas Bosowa (Unibos) mengukuhkan dua guru besar baru melalui Sidang Terbuka Senat dalam rangka orasi ilmiah dan pengukuhan profesor di Balai Sidang 45 Kampus Unibos, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (31/3/2026).

Dua akademisi yang dikukuhkan yakni prof Dr Hasanuddin Remmang sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen dengan kepakaran kewirausahaan, serta Prof Dr Iskandar sebagai Guru Besar bidang Ilmu Sosiologi dengan kepakaran sosiologi pembangunan dan perubahan sosial.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat, diawali dengan pembacaan pidato ilmiah, penandatanganan kode etik profesor, hingga pemasangan selempang oleh Dewan Profesor Unibos.

Pengukuhan ini disaksikan Rektor Unibos Prof Dr Batara Surya MSi; Kepala LLDikti Wilayah IX, Dr Andi Lukman; Ketua BPH Yayasan Aksa Mahmud, Asrul Hidayat; serta jajaran senat dan sivitas akademika.

Dengan pengukuhan dua profesor baru ini, Unibos kini tercatat memiliki total 42 guru besar.

Rektor Unibos, Prof Batara Surya, menegaskan bahwa pencapaian gelar profesor merupakan hasil dari kerja keras, dedikasi, dan motivasi yang kuat.

“Gelar bukan sekadar simbol, melainkan amanah untuk berkontribusi pada pendidikan dan penelitian,” katanya.

Ia menyebut kunci keberhasilan ilmuwan terletak pada kerja keras, kerja cerdas, serta keikhlasan dalam menjalankan peran akademik.

“Motivasi yang kuat, yaitu keinginan dari dalam diri dosen, menjadi penentu utama, bukan sekadar mengikuti arus,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya disiplin, manajemen waktu, serta keseimbangan antara pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Saya mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Bosowa untuk mewujudkan visi universitas ke arah kemajuan dan inovasi, serta berkarya secara kolaboratif untuk mencapai reputasi global dengan tetap menjunjung tinggi kerukunan, harmoni, dan kebersamaan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah IX, Andi Lukman, menilai capaian guru besar merupakan puncak perjalanan panjang seorang dosen.

“Menjadi guru besar membutuhkan ketekunan,” katanya.

Dalam orasi ilmiahnya berjudul “Pembangunan, Perubahan Sosial dan Masalah Sosial Perkotaan”, Prof Iskandar menyoroti bahwa pembangunan tidak hanya membawa kemajuan, tetapi juga memunculkan persoalan sosial yang kompleks.

“Pembangunan nasional pada dasarnya merupakan proses transformasi sosial yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun di saat yang sama juga memicu perubahan sosial yang tidak selalu berjalan seimbang,” ungkap guru besar kelahiran Makassar ini.

Ia menjelaskan bahwa modernisasi dan pertumbuhan ekonomi kerap diiringi ketimpangan sosial, khususnya di wilayah perkotaan akibat urbanisasi dan keterbatasan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, serta layanan sosial.

“Masalah sosial perkotaan tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan ketertiban, tetapi merupakan cerminan ketimpangan struktural dan eksklusi sosial yang membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih adaptif dan berkeadilan,” jelasnya.

Ia menegaskan pembangunan ke depan harus berorientasi pada manusia serta melindungi kelompok rentan.

“Pembangunan harus berorientasi pada manusia, memperkuat integrasi sosial, serta melindungi kelompok rentan agar tidak semakin tertinggal dalam arus perubahan,” tutupnya.

Di sisi lain, dalam orasi ilmiah berjudul “Teknologi Kewirausahaan di Era Bisnis Digital Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Industri Sutra: Peran Ekosistem dan Kolaborasi,” Prof Dr Hasanuddin Remmang menyoroti pentingnya transformasi digital dalam meningkatkan daya saing UMKM.

“Perkembangan teknologi digital dalam kewirausahaan telah membawa perubahan fundamental terhadap cara dan strategi pengembangan UMKM, termasuk industri sutra yang selama ini identik dengan proses tradisional,” ujar Guru Besar Kelahiran Bone ini.

Ia menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan.

“Kolaborasi mampu menciptakan sinergi dalam pengembangan produk, pemasaran bersama, serta memperkuat posisi industri sutra sebagai bagian dari ekonomi kreatif,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan kontribusi besar UMKM terhadap perekonomian nasional, meski masih menghadapi tantangan dalam adopsi teknologi.

“UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja, namun tingkat pemanfaatan teknologi digital masih rendah sehingga perlu dukungan ekosistem yang lebih kuat,” jelasnya.

Pengukuhan dua profesor ini tidak hanya menjadi pencapaian akademik personal, tetapi juga memperkuat posisi Universitas Bosowa sebagai institusi pendidikan tinggi yang konsisten melahirkan pemikir strategis dan inovatif di tingkat nasional maupun global.

(*)


Tags: Guru besar Unibos Universitas Bosowa

Baca juga