KAREBANUSA.COM, MAKASSAR - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melemah. Per hari ini, Kamis (11/6/2026), 1 dolar AS senilai Rp 17.963.

Melemahnya nilai tukar rupiah ini mempengaruhi aspek perekonomian dalam negeri, termasuk industry otomotif.

Hal ini berpotensi menekan struktur biaya produksi untuk komponen industri otomotif nasional. Pasalnya, industri ini memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor.

Untuk harga motor, Astra Motor memastikan belum ada kenaikan, paling tidak di bulan Juni 2026 ini.

Kenaikan harga motor akan disesuaikan dengan kondisi ke depan akan seperti apa.

Jika harga motor masih dipertahankan, beda dengan suku cadang atau sparepart dan oli.

Sparepart Manager Astra Motor Sulsel, Agustoni Hioe, mengatakan, harga sparepart dan oli mengalami kenaikan karena mengikuti kenaikan dolar.

"Harga sparepart dan oli sudah mulai naik sejak bulan lalu, khususnya oli. Kenaikannya cukup signifikan," katanya.

"Meski ada kenaikan harga oli, namun untuk biaya jasa ganti oli misalnya masih mengaju ke biaya lama alias tidak ada kenaikan," tambahnya.

Naik hingga 3,8 persen

Tekanan biaya karena kenaikan nilai tukar dolar ini berimbas pada kenaikan harga oli yang digunakan hampir di seluruh proses permesinan dalam pembuatan komponen kendaraan. 

Dilansir dari Kompas.id, Data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil inflasi sebesar 0,14 persen.

Komoditas yang memberikan andil inflasi komponen inti salah satunya pelumas/oli mesin yang mencapai 3,85 persen.

Diperkirakan, harga oli naik ini juga berimbas pada biaya produksi untuk suku cadang 

Besaran kenaikan harga suku cadang di pasar seiring dengan pelemahan rupiah dan kenaikan harga oli belum biasa dipastikan. 

Sebab, setiap produsen memiliki struktur biaya, tingkat penggunaan bahan baku impor, serta skema kontrak yang berbeda dengan produsen kendaraan atau original equipment manufacturer (OEM).

(*)



Tags: Asmo Sulsel Astra Motor sparepart Honda

Baca juga