Bahas Perkembangan Ekonomi dan Inflasi, Bank Indonesia Gelar Business Gathering
KAREBANUSA.COM, Makassar - Dalam rangka memberikan sumbangan pemikiran bagi pembangunan Sulawesi Selatan (Sulsel). Bank Indonesia menginisiasi penyelenggaraan business gathering yang membahas terkait dengan perkembangan dan perkiraan ekonomi, inflasi, stabilitas sistem keuangan dan kesejahteraan di tahun 2019. Acara tersebut dihadiri oleh para pemangku kepentingan di Sulsel, baik pemerintah, perbankan, pelaku usaha, akademisi, media massa, responden survei dan kontak liaison Bank Indonesia.
Kepala Kantor BI Sulsel, Bambang Bambang Kusmiarso mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk menyampaikan pandangan Bank Indonesia mengenai perkembangan ekonomi Global, Nasional, Sulawesi Selatan dan prospek ke depan, serta beberapa kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Forum ini juga merupakan sinergi diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Sulawesi Selatan terkini yang dilakukan Bank Indonesia secara rutin triwulanan dan Temu Responden yang dilakukan rutin tahunan sebagai bentuk apresiasi Bank Indonesia Provinsi Sulsel kepada responden survei dan liaison dan ditujukan untuk meningkatkan sinergitas serta kemitraan dengan responden.
"Sebagaimana diketahui, sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai tugas antara lain merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan, dalam rangka mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah," ujar Bambang Bambang Kusmiarso, Rabu(25/9/2019).
Untuk dapat merumuskan kebijakan yang kredibel, menurut Bambang, Bank Indonesia memerlukan data dan informasi yang lengkap (comprehensive), reliable, akurat, dan tepat waktu (timely) terutama mengenai perkembangan permintaan dan penawaran di sektor riil.
Sementara itu, terkait dengan pekembangan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2019 diperkirakan turun menjadi 3,2% sesuai dengan World Economic Outlook pada Juli 2019.
Penurunan proyeksi PDB dunia tersebut disebabkan oleh perang dagang di Tiongkok dan Amerika Serikat yang memperburuk perekonomian negera-negara mitra dagang. Selain itu india dan Uni Eropa juga menunjukkan penurunan. Turunnya pertumbuhan ekonomi dunia turut membawa Indonesia kepada pertumbuhan ekonomi yang sedikit lebih rendah tercatat 5,05% (yoy) triwulan II 2019 dibanding yang sebelumnya sebesar 5,07% (yoy).
Adapun untuk pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2019 tumbuh menggembirakan mencapai 7,46% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,5% (yoy). Hal tersebut membuat perekonomian Sulsel berada di peringkat empat nasional setelah Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah dan Maluku Utara. Dari sisi permintaarn, konsumsi domestik yag tinggi menjadi faktor utama dorong perekonomian Sulsel. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang bersifat multiyears mendorong realisasi investasi yang lebih tinggi. Sementara dari sisi penawaran, pada tanaman bahan makanan dan perkebunan, serta lapangan usaha industri pengolahan, kinerja industri makanan, industri barang logam bukan mesin dan industri furnitur mendorong perekonomian tumbuh lebih tinggi. Bank Indonesia perkirakan proyeksi ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 akan tumbuh pada kisaran 7,0%-7,4%.
Hal ini didukung oleh masih kuatnya pertumbuhan lapangan usaha konstruksi dan perdagangan, serta meningkatnya industri pengolahan dan administrasi pemerintahan. Selain itu, masih berlanjutnya proyek infrastruktur yang bersifat multiyears dan berakhir tahun 2019 serta relaksasi peraturan pinjaman LTV yang mendorong pembangunan perumahan menjadi salah satu penopang ekonomi Sulsel tahun 2019.
Sementara kondisi inflasi Sulawesi Selatan secara bulanan mencapai 0,36% (mtm) atau secara tahunan
2,84% (yoy). Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun 4,27% (yoy). Sehingga komoditas
yang perlu menjadi perhatian karena mendorong kenaikan harga antara lain emas perhiasan dan komoditas
hortikultura seperti cabe. Tingkat inflasi Sulsel tahun 2019 diperkirakan akan berada pada rentang target
3,5%±1%. Beberapa risiko yang patut diwaspadai adalah fenomena pergeseran musim tanam karena
adanya el-nino dalam level lemah, serta peningkatan permintaan di saat akhir tahun.
Oleh karena itu, koordinasi dan sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu semakin diperkuat dengan mengoptimalkan mekanisme komunikasi dan kerjasama antar kepala daerah, baik di tingkat provinsi maupun Kabupaten/kota.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah dan juga Andi F Noya sebagai Keynote Speaker.
Baca juga
- Universitas Bosowa Lanjutkan Benchmarking Global ke Radboud University Belanda
- MIWF 2026: Petakan Kolaborasi Literasi Prancis-Indonesia
- 16 Lapak di Lahan Fasum Kampung Barawajah Panakkukang Ditertibkan
- Pemkot Makassar Perkuat Dukungan untuk MIWF 2026, Appi Tegaskan Komitmen Bangun Ekosistem Budaya
- 178 Lapak di Mariso Ditertibkan, Berdiri di Lahan Fasilitas Umum Selama 53 Tahun, Pemilik Proaktif

