Belajar dari Rumah, Rela Panjat Pohon Demi Cari Jaringan
KAREBANUSA.COM, Mamasa - Hari masih gelap, matahari masih malu menampakkan sinarnya. Namun Lucky, Boby, Aril, dan beberapa siswa SMKN 1 Rantebulahan Timur bergegas mencari spot untuk nongkrong, lengkap dengan baju seragamnya, Senin (15/6/2020). SMK Negeri 1 Rantebulahan Timur berada di Desa Salumokanan, Kecamatan Rantebulahan Timur, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Bukan nongkrong sembarangan. Jangan bayangkan nongkrong di kafe atau ruangan ber-AC dengan jaringan super cepat.
Tapi tempat nongkrong mereka lebih spesial, sangat istimewa. Pasalnya, mereka nongkrong di atas bukit.
Hari itu, mereka akan mengikuti ujian sekolah, ya ujian secara online. Di masa pandemi Covid-19, sekolah memang melakukan aktivitas belajar mengajar secara daring.
Kendalanya, di Kecamatan Rantebulahan Timur, jaringan tidak selancar di kota-kota besar di Indonesia. Untuk bisa menelpon dan mengirim pesan sudah syukur, karena jaringan di sana timbul tenggelam.
Nah, kebetulan, jaringan yang cukup baik diterima itu ada di sebuah bukit. Jadilah mereka mengambil posisi masing-masing untuk menjawab soal melalui gadget.
"Ya, beginilah perjuangan kami mencari jaringan. Apalagi saat ini wajib belajar dan ujian secara online, jaringan menjadi sesuai yang sangat berarti," kata Lucky.
Karena jaringan yang didapatkan sangat terbatas, maka soal ujian dikirim menggunakan pesan WhatsApp (WA).
"Bisa buka WA dan FB sudah bersyukur. Kami belum bisa melakukan ujian online seperti yang lainnya lewat aplikasi meeting begitu. Satu-satunya jaringan yang bisa kami nikmati di sini ya dari Telkomsel," paparnya.
Hal senada juga dirasakan Sunita. Kondisi Sunita lebih beruntung dari Lucky dan beberapa rekannya. Ia bisa mendapatkan jaringan di rumahnya tanpa harus naik ke gunung.
"Tapi itu pun terbatas. Kualitas jaringan di sini ya kadang bagus kadang jelek, bahkan jaringannya sering hilang. Ponsel harus diletakkan di jendela saja. Gerak sedikit, jaringan bisa hilang," ucapnya.
Selama berjuang mencari jaringan, Sunita sering ikut temannya ke gunung. Menurutnya, itu pengalaman yang seru.
"Waktu cari jaringan itu yaa seru karena bisa sama teman-teman. Kalau ada teman yang pas dapat jaringan, kita berbondong-bondong arahkn ponsel ke sana, supaya dapat juga jaringan," kenangnya.
"Jaringan timbul tenggelam. Kadang kami nongkrong di bawah pohon, bahkan ada yang manjat pohon untuk dapat jaringan yang bagus," paparnya.
Jaringan di sana saat ini cuma mampu untuk mengakses aplikasi FB dan WA saja, itupu kadang lambat loading. Untuk download dokumen, gambar, atau file di WA harus bersabar karena lama.
"Beruntung ada jaringan Telkomsel sampai ke sini. Meski terbatas, kami sudah bisa membuka sedikit jendela dunia," katanya.
Salah satu guru SMKN 1 Rantebulahan Timur, Aris Munandar, mengaku sempat pusing saat pertama kali ditugaskan di wilayah tersebut. Maklum, dia sudah dimanjakan jaringan lancar di Kota Makassar dan harus ke daerah terpencil.
"Saya harus ke ibukota kecamatan agar bisa merasakan jaringan 'lebih baik'. Bisa berkomunikasi dengan lancar dengan keluarga dan teman," katanya.
"Tapi yang utama adalah jaringan itu sangat kami butuhkan untuk mencari referensi bahan pengajaran. Kami para guru harus memberi warna lebih banyak dalam mengajar dengan materi yang lebih beragam sesuai perkembangan jaman. Jadi, anak didik tidak ketinggalan informasi," ucapnya.
Sunita dan Lucky juga masyarakat di Rantebulahan Timur dan daerah lain di Mamasa yang masih terpencil berharap agar mendapat asupan jaringan memadai.
"Saran saya, sebaiknya Telkomsel memperhatikan daerah-daerah terpencil. Membangun lebih banyak tower jaringan (BTS) supaya kami bisa dengan leluasa menggunakan internet untuk menunjang kehidupan dan roda perekonomian di sini," katanya.
Terpisah, General Manager Network Operation and Quality Management Telkomsel Sulawesi, Muhammad Idham Kadir, mengungkapkan bahwa di Desa Salumokanan, Kecamatan Rantebulahan Timur, Kabupaten Mamasa, Telkomsel memiliki 1 site (Combat Salumokanan).
"Adapun BTS kita saat ini sudah mendukung Jaringan 4G LTE namun memang lokasi tower tidak tepat berada di ibukota Kecamatan Rantebulahan Timur," katanya.
Telkomsel berkomitmen untuk menjangkau semua wilayah di Indonesia, termasuk wilayah-wilayah terpencil.
"Kami terus melakukan improvement, terutama pemerataan coverage/sinyal di seluruh wilayah, khususnya di area pemukiman," katanya.
Khusus kasus di Rantebulahan Timur, Telkomsel akan dibangun tower yang lebih tinggi agar diharapkan bisa menjangkau lebih jauh.
Sehingga, masyarakat, khususnya sekolah tidak lagi terganggu dalam proses belajar mengajar secara daring di tengah masa pandemi ini.
Idham mengatakan, di Kabupaten Mamasa sendiri, Telkomsel total memiliki 12 site.
Telkomsel berkomitmen terus memberikan layanan yang terbaik untuk masyarakat dalam kelancaran berkomunikasi.
Tags: Telkomsel Telkomsel Area Pamasuka
Baca juga
- Telkomsel Hadirkan Paket RoaMAX Haji 2026 dan Layanan 5G di Arab Saudi
- Telkomsel Hadirkan IndiHome Ultra Mesh Wi-Fi, Solusi Internet Rumah Lebih Stabil dan Merata
- Telkomsel Catat Lonjakan Trafik Data 17,4 PB Saat RAFI 2026, Jaringan Tetap Stabil
- Pemkot Makassar dan Telkomsel Jajaki Kolaborasi Digitalisasi Sekolah. Tawarkan Platform School ID
- Telkomsel Hadirkan Mode Dasar Instagram, Akses Tetap Jalan Meski Kuota Habis

