KAREBANUSA.COM, Maros - Komitmen Yayasan Hadji Kalla (YHK) menciptakan Kampung Hijau Energi terwujud di Desa Sambueja, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

Warga di sana berhasil membuat bioenergi yaitu biogas dan bioslurry (pupuk) dari kotoran sapi.

Energi terbarukan dihasilkan dari reaktor biogas menggunakan alat khusus yang dihadirkan Yayasan Hadji Kalla sejak awal 2022 lalu. 

Alat ini mengolah kotoran sapi peliharaan warga menghasilkan energi yang bermanfaat bagi warga sendiri.

Baik untuk pemenuhan pupuk pertanian (bioslurry) maupun sebagai pengganti gas elpiji (biogas).

Kepala Desa Sambueja, Darmawati SPd, berterima kasih kepada Yayasan Hadji Kalla karena memberikan ilmu terbarukan kepada warganya. 

“Kotoran sapi tidak lagi bertebaran karena dijadikan biogas dan bioslurry, sehingga kampung kami bersih” ujarnya.

“Masyarakat sudah melihat perkembangan sebelum dan setelah ada biogas. Karena keterbatasan penganggaran, kami harap program ini bisa dilanjutkan oleh Kalla,” tambahnya.

Sementara itu, Manager Bidang Kemanusiaan dan Lingkungan Yayasan Hadji Kalla, Sapril Akhmady, mengatakan program ini sudah diwacanakan sejak dua tahun lalu dan telah berjalan setahun belakangan ini.

“Kami memilih daerah ini karena berdasarkan survey, 80-90 persen petani di sini menggunakan pupuk kimia untuk budidaya tanamannya," katanya saat Media Visit Kampung Hijau di Desa Sambueja, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Jumat (17/2/2023).

"Sementara kami ingin convert ke pupuk organik,” lanjutnya.

"Pupuk kimia sangat mahal dan langkah, bahkan dijatah. Sementara masyarakat butuh alternatif,” tambah Sapril. 

“Selain itu, untuk kebutuhan dapur, masyarakat sangat tergantung dengan LPG (elpiji), harganya bisa mencapai Rp 25.000 hingga Rp 70.000," ucapnya.

Muhammad Zuhair, Direktur Yayasan Hadji Kalla, mengatakan program ini dilaksanakan di 5 kabupaten dan akan ditambah tahun ini.  

“Kita berusaha menjangkau potensi ekonomi di desa, bukan hanya di dekat Makassar, tapi juga yang jauh," katanya. 

Proses pembuatan biogas dengan memasukkan kotoran sapi ke dalam mixer khusus, kemudian di-blend. Setelah itu ampas kotoran sapinya dapat dijadikan bioslurry (pupuk).

“Kami menggunakan sapi yang di kandang, karena sapi yang dilepasliarkan sulit diambil kotorannya,” ujar Sekertaris Desa Sambueja, Habo.(*/Dian)


Tags: biogas bioslurry Desa Sambueja Kampung Hijau Energi Yayasan Hadji Kalla YHK

Baca juga