Penulis: Rahman Daeng Gusdur

Aktivis Difabel asal Selayar

KAREBANUSA.COM - Kepulauan Selayar yang terbentang luas di ujung selatan Sulawesi, menghadap langsung ke Samudra Hindia, bukan sekadar gugusan pulau yang indah.

Wilayah ini merupakan simpul maritim vital yang sejak berabad-abad lalu menjadi jalur lintas laut dunia, sekaligus menyimpan jejak sejarah dan tantangan keamanan yang terus relevan hingga kini. 

Sebagai putra daerah, Abdul Rahman Daeng Gus Dur, aktivis difabel dan penggiat isu inklusi, mengungkapkan rasa bangga sekaligus harapan besar menyaksikan perhatian nyata negara terhadap tanah kelahirannya.

Jejak Sejarah: Bukti Pentingnya Selayar di Peta Dunia

Sejarah mencatat wilayah ini telah dikenal pelaut dunia sejak abad ke-16. Nama "Selayar" sendiri dipercaya berasal dari sebutan "Si Layar", karena bentuk rangkaian pulaunya yang dari jauh tampak menyerupai layar kapal raksasa yang terbentang gagah di tengah samudra. 

Sejak masa Kerajaan Gowa-Tallo, era kolonial, hingga bergabung sepenuhnya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Selayar senantiasa menjadi bagian tak terpisahkan yang menjaga gerbang selatan negara.

Berbagai temuan dan peristiwa masa lalu semakin mengukuhkan nilai strategis wilayah ini: 

- Tahun 2004: Tim peneliti dan warga setempat menemukan sisa keramik, piring kuno, dan peralatan pelayaran di perairan dangkal.

Temuan ini menjadi bukti otentik bahwa ratusan tahun silam, pedagang dan pelaut dari Tiongkok telah melintasi dan berlabuh di perairan ini. Judul berita saat itu: "Peninggalan Kapal Dagang Tiongkok Abad ke-14 Ditemukan di Perairan Selayar, Bukti Jalur Niaga Kuno".

- 1942–1945: Selayar sempat dikuasai militer Jepang dan dijadikan pangkalan pertahanan utama. Peristiwa ini membuktikan, bahkan di masa lalu, kekuatan besar pun telah menyadari posisi krusial pulau ini sebagai titik kendali lalu lintas laut.

- Tahun 2023: Ditemukannya pesawat nirawak atau drone yang terdampar di pantai selatan dengan identitas dan tulisan berbahasa Tiongkok.

Kejadian ini sempat menjadi sorotan nasional, mengingat wilayah ini sangat terbuka dan rentan terhadap aktivitas asing. Judul berita: "Drone Asal Tiongkok Terdampar di Pantai Selayar, Aparat Selidiki Asal-usul dan Tujuan Pengoperasian".

Posisi Strategis: Simpul Lalu Lintas Laut Dunia

Secara geografis, Laut Selayar berfungsi sebagai jembatan laut utama yang terhubung langsung ke Samudra Hindia di selatan, serta berhubungan erat dengan Laut Flores, Teluk Bone, dan Selat Makassar di utara dan barat. Posisi ini menjadikannya penghubung alami antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Data lalu lintas pelayaran menunjukkan, setiap harinya rata-rata 150 hingga 200 kapal berbagai jenis melintas di Selat Selayar. Mulai dari kapal niaga raksasa, kapal kargo, kapal penangkap ikan, hingga kapal pesiar internasional. Jalur ini menjadi poros utama yang mengarahkan arus pelayaran ke empat arah strategis:

- Timur: Menuju Laut Banda, Maluku, hingga Papua

- Barat: Menuju Selat Makassar, Kalimantan, Jawa, dan Sumatera

- Selatan: Terbuka luas ke Samudra Hindia, menuju Australia dan Samudra Atlantik

- Utara: Menuju Teluk Bone, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Utara

Kepadatan dan jangkauan jalur ini menegaskan peran Selayar sebagai "pintu gerbang" yang wajib dijaga ketat demi menjamin kedaulatan dan keamanan maritim Indonesia.

Tantangan Keamanan: Jalur Rentan Kejahatan Laut

Namun, posisi strategis ini kerap dijadikan celah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Berbagai kasus besar yang menggegerkan terus tercatat, menunjukkan betapa rentannya perairan ini jika tidak ada kehadiran kekuatan pertahanan yang tetap dan kokoh.

Salah satu peristiwa paling menyita perhatian terjadi pada Bulan Ramadhan 2026 lalu, ketika nelayan setempat menemukan paket-paket besar berisi zat yang diduga kokain seberat 25,44 kilogram terdampar di pesisir. Barang haram itu terbungkus rapi, diduga kuat berasal dari luar negeri dan terbawa arus laut. Judul berita: "Nelayan Selayar Temukan 25,44 Kg Paket Diduga Kokain Terdampar di Pantai".

Belum lagi praktik ilegal bom ikan dan bahan peledak yang masih marak terjadi setiap tahun. Hal ini tidak hanya merusak ekosistem laut dan mematikan terumbu karang, tetapi juga menghancurkan sumber daya alam serta masa depan ekonomi masyarakat pesisir.

Kunjungan Pejabat Tinggi: Bukti Keseriusan, Harapan Nyata

Pada awal Mei 2026 ini, kabar menggembirakan hadir seiring kedatangan rombongan pejabat tinggi Angkatan Laut dari Markas Besar, jajaran Lantamal Makassar, dan instansi terkait untuk meninjau langsung kesiapan pembangunan Pangkalan TNI AL (Lanal) Selayar. Isu pembangunan ini sebenarnya sudah didorong dan diperjuangkan sejak tahun 2012, dan kunjungan ini menjadi tanda nyata bahwa langkah perwujudan semakin dekat.

Rombongan dipimpin langsung oleh Laksamana Muda TNI Andi Abdul Azis, Komandan Komando Daerah Angkatan Laut VI Makassar. Sebagai putra asli Desa Bontobangun, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, kehadiran beliau membawa harapan besar tersendiri bagi masyarakat.

"Kami berharap Bapak Laksamana Muda Andi Abdul Azis dapat mengawal dan memastikan isu ini berjalan sampai tuntas dan terwujud nyata. Jangan sampai hanya menjadi wacana, seperti nasib pembangunan Kilang Minyak dan Pengelolaan Minyak Selayar yang sudah dibangun namun tidak pernah beroperasi, atau seperti Pelabuhan Pelni di Pamatata yang hingga kini belum berfungsi maksimal dan terasa sia-sia bagi kami," tegas Abdul Rahman Daeng Gus Dur.

 Turut hadir dalam rombongan peninjauan:

 - Laksamana Pertama TNI Budi Santoso – Komandan Lantamal VI Makassar

- Pejabat Utama Mabesal & Kementerian Pertahanan

- Achmad Daeng Se’re – Anggota Komisi I DPR RI

- Pejabat KodAeral VI & Lantamal VI: Kolonel Laut (T) Hendro Yusworo Haryono, Kolonel Laut (KH) Anon Susilo Hadi, serta para Asisten dan Kepala Dinas terkait

- Letkol Laut (P) Rahmat Kurniawan – Komandan KRI Marlin-877 beserta awak kapal

Harapan: Lanal Tegak, Selayar Aman dan Makmur

Bagi masyarakat Selayar, kehadiran Lanal bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan wujud kehadiran nyata negara.

Diharapkan, dengan adanya pangkalan ini, pengawasan perairan akan jauh lebih ketat, jalur penyelundupan narkoba dan barang terlarang dapat terputus, serta praktik perusakan laut bisa diberantas sampai ke akar-akarnya.

Selain aspek keamanan, kehadiran TNI AL diprediksi akan menggerakkan roda ekonomi rakyat. Mulai dari terbukanya lapangan kerja, berkembangnya usaha masyarakat, hingga memajukan pariwisata bahari.

Bagi para penyandang disabilitas pun, diharapkan pembangunan ini membawa ruang inklusif, di mana seluruh warga bisa berperan dan menikmati kemajuan daerahnya.

Selayar memiliki sejarah panjang, letak strategis tak tergantikan, dan kekayaan alam luar biasa. Sudah saatnya potensi ini dijaga dan dikembangkan sepenuhnya.

apa yang dirintis sejak 2012 ini bukan lagi sekadar rencana di atas kertas, melainkan segera tegak berdiri kokoh. Menjadi benteng pertahanan maritim Indonesia sekaligus gerbang kemakmuran bagi seluruh masyarakat Kepulauan Selayar yang berjaya menghadap Samudra Hindia.

(*)


Tags: Kepulauan Selayar Rahman Daeng Gusdur

Baca juga