Ilustrasi oleh ai

KAREBANUSA.COM, MAKASSAR - Agenda tes seleksi seluruh SMA Negeri Berasrama Sulawesi Selatan yang sudah ditetapkan dan disosialisasikan untuk dilaksanakan 22 Mei 2026, mendadak dibatalkan dan dijadwalkan ulang pada pekan depan. 

Keputusan sepihak ini keluar langsung dari Gubernur Sulsel melalui Kepala Dinas Pendidikan.

Diundurnya jadwal seleksi tersebut memicu gelombang kekecewaan dari para orang tua anak didik.

Pasalnya, tidak sedikit anak peserta tes datang dari berbagai kabupaten/kota di Sulsel hanya untuk mengukuti seleksi ini.

Hal ini juga memunculkan pertanyaan besar serta kritik tajam dari berbagai kalangan, salah satunya dari Rahman Gusdur, aktivis difabel sekaligus pemerhati pendidikan.

Rahman Gusdur menyayangkan cara kerja birokrasi Pendidikan ini. 

Ia menyayangkan bahwa jadwal yang sudah ditetapkan berbulan-bulan, disebar luas ke seluruh kabupaten dan kota, namun tiba-tiba diubah mendadak di hari pelaksanaan, hari ini, Jumat (22/6/2026). 

"Seolah para pejabat sama sekali tidak paham bahwa sekolah berasrama melibatkan siswa dan orang tua yang datang dari puluhan hingga ratusan kilometer jauhnya. Ini bukti nyata perencanaan yang lemah dan kurangnya kepekaan sosial,” ujarnya dalam keterangan diterima redaksi Karebanusa.com, Jumat (22/5/2026).

Yang paling menyedihkan, lanjut Rahman, adalah dampak yang diterima masyarakat. Banyak orang tua sudah menempuh perjalanan jauh, melintasi jalanan rusak dan pegunungan, meninggalkan pekerjaan serta kegiatan sehari-hari, semata-mata demi memenuhi jadwal resmi pemerintah. 

Mereka sudah berkorban waktu, tenaga, dan biaya transportasi demi datang tepat waktu. 

"Tapi apa balasannya? Sesampainya di lokasi, harus terima kenyataan: batal, harus pulang kecewa dengan tangan kosong," katanya. 

"Belum lagi siswa dari daerah terpencil yang tak bisa langsung kembali, terpaksa menginap dan menunggu di kota." 

"Akibatnya biaya sewa tempat, makan, dan kebutuhan lain bertambah, padahal itu sama sekali tak masuk anggaran awal. Uang saku habis sia-sia, siapa yang bertanggung jawab atas kerugian ini?” tegasnya.

Meski alasan penundaan disebutkan karena perlunya perbaikan persiapan dan penyesuaian teknis, langkah ini tetap menuai banyak pertanyaan. 

Mengapa hal krusial baru disadari di saat-saat terakhir, padahal jadwal sudah ditetapkan jauh sebelumnya?

Rahman Gusdur kembali menyampaikan kritik membangun demi perbaikan ke depan. 

“Kami mengerti niat untuk hasil lebih baik, tapi caranya harus dibenahi total. Jadwal pendidikan adalah janji publik, perjanjian yang sudah disepakati bersama." 

Ia mengatakan bahwa mengubahnya jadwal secara mendadak berarti merusak kepercayaan dan membebani rakyat kecil yang sudah berusaha keras. 

"Kami harap ini jadi pelajaran berharga: manajemen pendidikan harus lebih profesional, matang merencanakan sejak awal, dan selalu peka terhadap dampak ekonomi sosial masyarakat. Jangan sampai kasus seperti ini terulang, di mana anak bangsa dan orang tua jadi korban ketidaksiapan birokrasi,” pesannya.

Kasus ini menjadi sorotan penting: apakah penundaan dari 22 Mei ke pekan depan ini sekadar insiden, atau cerminan sistem pengelolaan pendidikan yang memang butuh pembenahan mendasar? Seluruh mata kini tertuju pada pelaksanaan jadwal baru, apakah pemerintah mampu membuktikan perbaikan yang dijanjikan.

 

(*)


Tags: Rahman Daeng Gusdur SMAN Berasrama Sulsel

Baca juga