Perjalanan Kristiani Menaklukkan Mimpi dari Pelosok Hingga Cumlaude di UNY
KAREBANUSA.COM, YOGYAKARTA - Tidak semua gelar magister diraih dari ruang kuliah yang nyaman.
Bagi Kristiani Tandi Rani, setiap lembar tesis yang ia tulis lahir dari perjalanan panjang menembus sungai, sinyal yang putus-putus, liputan di pelosok, hingga perjalanan dengan bus Trans Jogja dari satu sudut kota ke sudut lainnya.
Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan kisah tentang seorang perempuan yang pernah nyaris mengakhiri hidup, tetapi memilih bertahan demi mimpi.
Perempuan kelahiran Sangalla, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 7 Juni 2000, itu merupakan anak bungsu dari dua bersaudara.
Di usia 26 tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Yogyakarta dengan predikat cumlaude, meraih IPK 3,89 hanya dalam masa studi 1 tahun 6 bulan.
Selama kuliah, ia tetap bekerja sebagai jurnalis untuk membiayai pendidikannya, sembari aktif melayani di Gereja Mawar Sharon sebagai sponsor Connect Group YA 06 Yogyakarta, pelayanan anak Eagle Kids, serta organisasi Persekutuan Mahasiswa Kristen Magister dan Doktoral (Permata) UNY.
Namun, perjalanan itu tidak dimulai dari keberanian.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga kelas tiga SMP, ia hidup dalam bayang-bayang perundungan. Bahkan, keluar rumah menjadi sesuatu yang menakutkan baginya.
Luka batin itu sempat membawanya pada keputusan paling gelap dalam hidupnya.
"Obat kedaluwarsa sudah ada di tangan saya waktu itu. Saya benar-benar ingin mengakhiri hidup. Tapi nenek mengetuk pintu kamar. Dari situ saya berpikir, kalau Tuhan masih memberi kesempatan hidup, berarti saya harus mengembangkan bakat yang saya punya," kenang Tini, sapaannya, saat membagikan kisahnya, Senin (29/6/2026)
"Saat melihat pendaftaran penyiar radio, saya memberanikan diri mendaftar. Saya tidak menyangka justru diterima."
"RPK FM Tana Toraja menjadi rumah yang memperkenalkan saya pada diri saya yang baru, dan Kak Paul adalah sosok yang setiap minggu memaksa saya keluar dari zona nyaman hingga berani berbicara di depan umum," tuturnya.
Keberanian yang mulai tumbuh itu kemudian mengantarkannya mencintai dunia jurnalistik.
Ia bergabung dalam tim peluncuran Tribun Toraja pada semester tujuh kuliah.
Setiap bulan, ia harus bolak-balik Toraja–Makassar untuk bekerja. Namun, sesaat setelah peluncuran media itu, cobaan lain datang.
Ia harus menjalani operasi akibat sakit di bagian perut.
Pada konsultasi pertama, dokter sempat menyampaikan dugaan bahwa dirinya mengidap kanker.
Selama dua bulan, hidupnya dipenuhi ketakutan menunggu vonis yang ternyata tidak pernah menjadi kenyataan.
"Saya sempat berhenti bermimpi. Dua bulan saya hanya menunggu mati. Tetapi ketika saya masih hidup, saya kembali ingat cita-cita melanjutkan S2. Masalahnya, saya sudah resign dan tidak punya uang," katanya.
Saya ikut teman-teman liputan di media lokal, lalu tanpa saya minta, Pak Rudhy (dr Rudhy Andi Lolo) yang saat itu menjabat Kepala Dinas Kesehatan memberikan uang liputan. Jumlahnya cukup untuk biaya pendaftaran S2 sebesar Rp 450 ribu. Beliau mungkin tidak sadar, tetapi bagi saya itu adalah jawaban doa," ujarnya.
Kesempatan itu membawanya ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Namun, tantangan belum selesai.
Demi membayar uang kuliah, Kristiani menerima tawaran bekerja di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, salah satu wilayah terluar dengan akses yang tidak mudah.
Liputan dilakukan menggunakan speedboat, jaringan internet sering hilang, dan banjir menjadi bagian dari keseharian.
Di tengah kondisi itu, ia tetap mengikuti perkuliahan secara daring. Bahkan, sebuah bekas kantor Dinas Pariwisata di Mahakam Ulu ia beri nama 'Universitas Mahakam Ulu' karena dari tempat sederhana itulah ia mengikuti kelas, menyelesaikan tugas, hingga menulis tesis.
Pernah suatu ketika banjir setinggi empat meter datang tepat saat dirinya harus mengikuti tahapan seleksi S2.
Di tengah keterbatasan akses dan kecemasan, ia tetap berhasil lolos.
"Banyak orang hanya melihat saya lulus cumlaude. Padahal, gelar ini lahir dari Mahakam Ulu. Saya kuliah sambil liputan, mengejar sinyal, naik speedboat, menulis tesis di bekas kantor dinas, lalu kembali bekerja. Rasanya benar-benar berdarah-darah. Karena itu, gelar ini saya persembahkan untuk Mahakam Ulu," jelasnya.
Saat akhirnya harus menetap di Yogyakarta untuk menyelesaikan tesis sambil bekerja dengan penghasilan setara upah minimum, ia kembali menjalani rutinitas yang tidak biasa.
Karena tidak mahir mengendarai sepeda motor, Trans Jogja menjadi kendaraan utamanya. Rekan-rekan sesama jurnalis bahkan menjulukinya 'jurnalis busway'.
Julukan itu justru menjadi simbol kebersamaan. Ketika liputan berada jauh dari jangkauan halte, rekan-rekannya tidak pernah membiarkannya berjuang sendiri. Mereka bergantian menjemput dan mengantarnya ke lokasi peliputan.
Di tengah segala perjuangan itu, prestasi terus berdatangan. Ia menyelesaikan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Muda pada usia 23 tahun, meraih penghargaan Penulis Hard News Terbaik IV dari BRI, menjadi Terbaik V dalam Insto Jurnalis Competition, dan tetap aktif menjalankan profesinya sebagai jurnalis hingga hari terakhir masa kuliahnya.
Baginya, gelar cumlaude bukanlah garis akhir. Itu hanyalah penanda bahwa mimpi dapat tumbuh dari tempat-tempat yang sering dianggap terlalu jauh, terlalu sunyi, atau terlalu sulit dijangkau.
Di balik setiap berita yang ia tulis, setiap pelayanan yang ia jalani, dan setiap perjalanan panjang menggunakan Trans Jogja maupun speedboat di Mahakam Ulu, tersimpan keyakinan sederhana, bahwa seseorang tidak ditentukan oleh seberapa berat masa lalunya, melainkan oleh keberaniannya untuk terus melangkah ketika hidup berkali-kali mengujinya. (*)
Tags: Predikat Cumlaude Tana Toraja Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
Baca juga
- Film SOLATA Kenalkan Keindahan Lembah Ollon Tana Toraja kepada Publik Slovakia
- Rudi Akhmadi Bakri Terpilih Aklamasi Pimpin Muaythai Tana Toraja Periode 2026-2030
- Opini: Toraja di Persimpangan
- Pemkab Tana Toraja Sesuaikan Jam Kerja ASN Selama Ramadan 1447 H, Berikut Rinciannya
- Aksi Tolak Geothermal Bittuang Sempat Memanas, Bupati Tana Toraja Sempat Dikepung di Gedung DPRD
