KAREBANUSA.COM, MAROS - "Kalau badan sakit-sakit, seduh saja Teh Kalli-Kalli ini, bisa tambahkan madu, badan bisa segar Kembali. Saya sudah rasakan manfaatnya," kata Daeng Corra (45) sambil memasukkan serbuk teh ke dalam kantong khusus. 

Daeng Corra merupakan salah satu warga Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabuapaten Maros, Sulawesi Selatan, yang memanfaatkan daun mangrove untuk menambah penghasilan.

Daun Mangrove yang dijadikan teh adalah jenis Jeruju (Acanthus ilicifolius).

Mangrove Jeruju berupa semak berduri yang hidup di area pasang surut dan sudah direset untuk sebagai produk pangan serta obat tradisional. 

Di rumah panggungnya, Corra meramu daun mangrove ini untuk dijadikan teh herbal.

Ibu 7 anak ini mengaku baru tahu jika daun Jeruju bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal. Itu setelah mendapat sekolah lapang atau pelatihan dari Yayasan Hutan Biru atau Blue Forest sekitar tahun 2020 hingga 2022 lalu.

Saat itu, karena kondisi pandemi Covid-19, penghasilan warga Kuri Caddi yang umumnya sebagai nelayan menurun.

Karena itulah, Blue Forest memberikan pelatihan kepada warga agar memiliki penghasilan tambahan. Menariknya, pelatihan yang diberikan memanfaatkan hasil dari lingkungan sekitar untuk dijadikan produk yang bernilai ekonomis.

"Saya ambil daun Jeruju setiap 3 minggu sekali atau sesuai permintaan. Saya ambil satu karung, jadinya bisa sampai 10 kotak teh," cerita Corra.

Daun Jeruju kemudian dicuci dan dijemur, jika matahari terik, bisa sampai 2 minggu sampai daun benar-benar kering.

Setelah itu diblender hingga halus dan menghasikkan serbuk teh. Corra yang kini berjuang sendiri setelah ditinggal suaminya 4 tahun lalu itu memasukkan serbuh teh ke kantong khusus dan dikemas dalam kotak.

"Satu kotak isinya 10 kantong, saya jual Rp 15 ribu. Satu karung tadi itu, bisa jadi 10-12 kotak. Itu tahan sampai 1 tahun," tambahnya.

"Saat ini, penjualan masih tradisional. Kalau ada tamu yang datang ke sini, biasanya membeli beberapa kotak. Ya, ada-ada saja (yang beli)," katanya sambil tersenyum.

Daeng Corra menambahkan, untuk menghasilkan 1 kotak teh Kalli-Kalli, ia bukan hanya membutuhkan modal daun Jeruju, tapi juga butuh modak kantong teh dan kotak. Untuk kantong teh isi 1.000 dibeli dengan harga Rp 25.000. Yang mahal adalah dos atu kotak, sampai Rp 5.000 per satuan (pcs).

Selain sebagai teh, dari mangrove bisa menghasilkan berbagai olahan lainnya. Buah mangrove bisa dibuat mie, buah Nipah bisa menghasilkan Nira dan turunannya menjadi gula merah, dan banyak lagi.

Keripik Ikan dan Rajungan

Manfaat dari sekolah lapang yang dilakukan Blue Forest juga dirasakan Nurdiana (42). Berkat pelatihan, ia membuat cemilan dari hasil laut yang melimpah.

Ikan bete-bete tidak hanya berakhir menjadi ikan kering tapi kini menjadi kerupuk nikmat.

Selain ikan bete-bete, Diana juga mengubah kepiting rajungan menjadi kerupuk yang renyah dan enak.


"Lumayan menguntungkan, karena hanya sedikit pelaku usaha bikin cemilan dari kepiting rajungan dan ikan bete-bete seperti kami ini," kata Diana.

Bahan yang melimpah dari nelayan membuat Diana bisa melakukan produksi dengan lancar, apalagi jika banyak pesanan.

Ia berterima kasih kepada Blue Forest yang memberikan pelatihan, mulai dari cari mengolah hingga pengemasan dan pemasaran.

"Banyak yang mulai melirik, suka katanya. Bahkan ada pesanan untuk dibawa ke luar negeri," kata Diana.

Untuk memenuhi permintaan, Diana memberdayakan tetangganya, sekaligus memberikan penghasilan tambahan.


Untuk kerupik, baik ikan bete-bete dan kepiting rajungan, dijual dengan harga Rp 15 ribu per pcs. Tidak hanya original, ia juga menjual varian lainnya seperti pedas manis dan balado.

Rumah Biota Laut

Dusun Kuri Caddi adalah sebuah permukiman pesisir yang terkenal karena kawasan hutan mangrove serta Pantai Kuri Caddi.

Dari Makassar, rute tercepat yang bisa ditempuh menggunakan perahu kecil (jolloro) dari Pelabuhan Untia hanya butuh waktu sekitar 30 menit. Jika melalui darat, mungkin waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi. 

Sapri, Kepala Dusun Kurri Caddi, mengatakan daerahnya merupakan wilayah paling terluar yang langsung berhadapan dengan laut.

Daerah ini dihuni sekira 791 jiwa (200 KK) yang tersebar di 3 RT.

"Mata pencaharian warga sini 90 persen adalah nelayan, khususnya nelayan rajungan. Hanya beberapa yang kerja sebagai karyawan," kata Sapri yang juga merangkap sebagai Kepala Sekolah Dasar.

"Kondisi ekonomi masyarakat di sini masih dibilang menengah ke bawah," tambahnya.


Untuk mangrove, Sapri mengaku bersyukur dengan adanya upaya dari Blue Forest untuk melestarikannya. Dulunya, derah tersebut gersang karena banyak mangrove yang mati akibat tanahnya dijadikan tambak.

"Tidak bisa dipungkiri karena mangrove juga bagian dari rumah biota laut, termasuk rajungan itu," katanya.

Lestarinya mangrove memberikan manfaat bagi ekosistem, terlebih pada masyarakat. Di mana menjadi pelindung ketika musim penghujan, perahu-perahu nelayan bisa berlindung di belakang mangrove.

"Kedua seiring banyaknya orang yang masuk memberi pemahaman dan mangrove misalnya seperti Blue Forest bahwa salah satu fungsi dari mangrove itu adalah pencegah daripada abrasi pantai, dan Alhamdulillah juga masyarakat sudah mulai sadar bahwa mangrove itu adalah rumah daripada biota laut," katanya.

Rehabilitasi 12 Ha Lahan Mangrove

Dusun Kuri Caddi merupakan wilayah binaan Blue Forest mulai 2013-2014 lalu. Sebelumnya, wilayah tersebut dikuasai sebuah perusahaan asing dan membuat tambak. Kemudian perusahan itu tutup dan meninggalkan tambak yang tidak produktif dengan kondisi mangrove yang nyaris kolaps.


Wilayah tersebut kemudian diambil alih oleh Muhammadiyah dan diberikan kepada Universitas Muhammadiyah untuk dikelola.

Blue Forest pun bekerja sama dengan Unismuh membuat percontohan, bagaimana mangrove dan tambak bisa berjalan tanpa harus menghilangkan salah satunya.

Pasalnya, dalam penelitian, umumnya petani tambak, khususnya dari Bugis-Makassar, akan "mematikan" mangrove untuk bisa membuka lahan jadi empang untuk mengembangkan ikan bandeng dan udang windu.

"Tambak dan magrove bisa hadir bersamaan. Bahkan, magrove menjadi filter alami," kata salah satu perwakilab Blue Forest, Rahmat Mato.

Untuk merehabilitasi hutan mangrove, Blue Forest menggunakan metode hidrologi, di mana membuka pintu air sehingga mangrove bisa merasakan pasang surutnya air laut.

"Mangrove bertumbuh secara alami," tambahnya.


Awal mulai rehabilitasi tahun 2013-2014, hanya ada sekitar 5 spesies mangrove yang tumbuh di sana. Sekarang, kondisi mangrove makin lebat dan tumbuh dengan subur. 

Sampai saat ini, sudah sekitar 12 hektare (ha) yang berhasil direhabilitasi dan kini sudah ada sekitar 14-15 spesies mangrove yang tumbuh di Kuri Caddi.

Dari 23 hektar, yang direhabilitas sekitar 12 hektar, sisanya untuk tambak.

Kini, ekosistem mangrove telah terbentuk secara alami berkat hasil kerja keras semua pihak, termasuk Blue Forests.

Hamparan hutan mangrove di Dusun Kuri Caddi ini sukses menjadi benteng alami pesisir.

(*)



Tags: Bibit mangrove Blue Forest Dusun Kuri Caddi Hari Mangrove Sedunia Mangrove Mangrove Jeruju rehabilitasi mangrove Yayasan Hutan Biru

Baca juga