KAREBANUSA.COM, Makassar - Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Darwisman, memaparkan perkembangan keuangan di Sulawesi Selatan pada Semester 1 2023.

“Perkembangan kredit aset perbankan kita masuk 8,26 persen (yoy). Ini sesuai harapan pemerintah pusat dan momentum ini sangat dibutuhkan untuk makin bertumbuh,” ujar Darwisman, Rabu (12/7/2023). 

“Dari total kredit yang disalurkan berada di angka Rp 146,2 trilun per Mei 2023, NPL (kredit macet) ada di 2,74 persen. Angka ini masih di bawah ambang threshold 5 persen. Sehingga masih aman untuk kredit bank umum,” papar Darwisman.

Menurut Darwisman, masih menjadi PR bagi OJK untuk mendorong kualitas penghimpunan dana masyarakat, untuk mengimbangi pertumbuhan dan perkembangan kredit.

Untuk Bank Syariah, perkembangan total aset ada di titik 7,09 persen. Dari total aset Rp 166,36 triliun, Bank Syariah berkontribusi Rp 12,7 triliun. 

Sementara untuk kredit pembiayaan, perkembangannya di angka 7,40 persen dan dana pihak ketiga di posisi 7,19 persen.

“Bank Syariah merupakan salah satu potensi di Indonesia karena jumlah umat Islam yang besar, Karena itu potensi ekonomi yang bisa berkontribusi ke syariah sangat luas,” tambah Darwisman. 

“Selain itu, sektor lain yang menjadi contributor adalah  pembangunan, perikanan, dan perdagangan, utamanya di Sulawesi Selatan.”

Sektor Ekonomi Kontributor Terbesar

Dari 10 sektor ekonomi yang berkontribusi terbesar, sektor perdagangan besar dan eceran menyumbang Rp 36,87 triliun (25,18 persen).

Kredit perbankan sektor ini terkonsentrasi di sektor perdagangan besar maupun eceran. 

“Ini sesuai representasi masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu masyarakat pedagang,” ujar Darwisman. 

Peringkat kedua adalah sektor kepemilikan peralatan rumah tanga, dan ketiga adalah sektor kepemilikan rumah tinggal.

Untuk sektor pertanian, perburuan, kehutanan, potensinya masih cukup besar, dimana kredit yang disalurkan mencapai Rp 11,22 triliun. 

Di bawahnya ada sektor Konsumsi dengan kredit sebesar Rp 5,43 triliun, dilanjutkan di sektor industri pengolahan sebesar Rp 2,85 triliun.

NPL (Kredit Macet), Pasar Modal, Industri Keuangan Non-Bank, dan Fintech

Lima daerah dengan NPL terbesar adalah Takalar sebesar 4,18 persen; Pinrang di 3,35 persen; Makassar 3,34 persen; Maros di 3,05 persen; dan Wajo di 2,98persen. 

OJK akan terus melakukan recovery agar kreditnya terus berjalan lancar.

Untuk pasar modal, nilai transaksi saham ada di angka Rp 5,76 triliun.

Rekening investasi pasar modal di dominasi reksadana di angka 70,44 persen. Transaksi saham per Mei 2023 sendiri ada di angka 5,76 triliun.

Sementara itu industri keuangan produktif lainnya adalah industri keuangan non bank. Industri tersebut antara lain dana pension, pembiayaan, lpei, pergadaian, jamkrida sulsel, dan modal ventura.

Pergadaian sendiri total pinjamannya terus meningkat, angka di 5,06T.

Fintech juga merupakan industri keuangan yang bertumbuh di Sulsel. Dari Agustus 2020 hingga Mei 2023, outstanding pinjaman dari rekening P2PL berizin totalnya Rp 928 miliar. 

Untuk syariah istilahnya adalah TWP, dengan sistem bagi hasil, kreditnya terus bertambah.

Layanan OJK

Selama 2023,OJK menerima 408 laporan layanan konsumen. Dari 409 itu, ada 94 layanan pemberian informasi, 70 layanan jasa sistem pembayaran, 63 layanan restrukturisasi kredit, 42 layanan informasi, 20 layanan dana simpanan 24 layanan lelang, 26 layanan permasalahan agunan, dan sisanya layanan perbankan.

Status penyelesaian layanan tersebut adalah 237 selesai, 8 diteruskan ke kantor pusat, dan sisanya masih di proses. 

Untuk layanan SLIK sendiri ada 2918 permintaan SLIK dari masyarakat Sulsel dan Sulbar baik tatap muka dan online. Ini merupakan bagian dari kegiatan perlindungan konsumen OJK, bekerjasama dengan satgas waspada investasi daerah.

Program-Program OJK lainnya

OJK memiliki program Phinisi yaitu Program Hapus Ikatan Rentenir di Sulawesi (phinisi). Ini dilakukan dengan memberikan pinjaman lain yang prosesnya cepat, biaya murah, bunga rendah. Saat ini sudah ada 36168 rekening dengan target Rp 8 triliun.

Selain itu OJK memiliki program ekosistem keuangan inklusif dengan mendorong perkembangan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah. Misalnya pilot project desa wisata di Lembanna dan Pattilereng.

OJK memberikan edukasi dan literasi keuangan ke masyarakat di daerah-daerah, umkm, pengrajin, nelayan, petani, kades, ibu-ibu, dan bagian masyarakat lain. Pendekatan terhadap masyarakat kecil sendiri menjadi strategi OJK, sampai OJK mendatangi desa di Bulukumba dan Selayar.

Masyarakat diharapkan untuk terus mendukung kegiatan OJK. Diharapkan agar masyarakat tidak memakai jasa rentenir, namun menggunakan jasa yang telah disediakan OJK.(*/Dian)


Tags: OJK OJK Regional 6 Sulawesi Selatan

Baca juga