Nelayan rajungan di Laut Makassar

KAREBANUSA.COM, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (5/8/2026), merilis perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan kinerja positif.

Ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai Rp 6.552,1 triliun.

Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp 3.576,2 triliun.

Secara kuartalan (quarter to quarter/q-to-q), ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026.

Dari sisi produksi, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi secara kuartalan, yakni sebesar 12,26 persen.

Dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,08 persen.

Secara tahunan, lapangan usaha pengadaan listrik dan gas menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yaitu mencapai 10,81 persen.

Pada periode yang sama, konsumsi pemerintah kembali menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 15,97 persen.

Secara kumulatif, perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I 2025 (cumulative to cumulative/c-to-c).

Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,83 persen.

Sementara itu, konsumsi pemerintah menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan paling tinggi pada semester I 2026, yakni mencapai 18,62 persen.

BPS juga mencatat Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional pada triwulan II 2026.

Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi sebesar 56,47 persen terhadap struktur ekonomi Indonesia.

Selain menjadi penyumbang terbesar, wilayah Pulau Jawa juga mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,65 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.

Apindo: Masih Rapuh

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sinta Kamdani, menanggapi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia ini.

Dengan pertumbuhan mencapai 5,29 persen, Sinta menilai itu masih tergolong rapuh. 

"Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan Q2 2026 yang mencapai 5,29 persen yoy. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kita pastikan agar dapat bertahan, bahkan naik, ke depannya hingga akhir tahun," ujar Sinta dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026), dikutip dari kompas.com.

Menurut Sinta, kuartal II menjadi periode yang cukup berat bagi dunia usaha. Konflik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga energi menyebabkan banyak industri menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi atau cost-push inflation. 

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan beban biaya bahan baku impor dan ongkos produksi. 

"Dari sisi sektor riil, kuartal II-2026 merupakan kuartal yang berat karena banyak industri yang mengalami cost-push inflation akibat imbas konflik di Selat Hormuz (kenaikan harga energi) dan efek pelemahan nilai tukar terhadap peningkatan beban biaya produksi dan bahan baku impor," katanya. 

Sinta menegaskan masih terdapat sejumlah industri yang mampu mencatatkan pertumbuhan. Namun, ekspansi tersebut belum menjadi tren utama di tengah berbagai tekanan yang dihadapi dunia usaha. 

Sinta berpesan agar pemerintah terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ini agar pemulihan tidak berhenti di level saat ini.(*)


Tags: Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Badan Pusat Statistik (BPS) BPS Pertumbuhan Ekonomi

Baca juga