Penulis: Abdul Rahman Daeng Gus Dur – Aktivis Difabel Asal Selayar

KAREBANUSA.COM  - Melalui penelusuran mendalam terhadap dokumen kuno yang telah didigitalkan, catatan sejarah digital, dan arsip yang dapat diakses secara publik, terungkap fakta besar yang selama ini tersembunyi: Kepulauan Selayar di selatan Sulawesi Selatan bukan sekadar gugusan pulau biasa. 

Wilayah ini terbukti menjadi pusat peradaban, gerbang utama perdagangan internasional, pangkalan strategis kekuatan maritim, serta jembatan hubungan antarnegara yang tercatat jelas dalam sejarah Nusantara.

 

Berdasarkan rekaman sejarah yang sah dan dapat dibuktikan, sejak zaman dahulu Selayar telah memiliki sistem pertahanan laut lengkap, terorganisir rapi, serta dilengkapi pos penjagaan dan menara pengawas. Secara geografis maupun historis, Selayar merupakan lokasi paling tepat, aman, dan efektif untuk dijadikan markas utama Armada Wilayah Timur Indonesia. 

Posisi ini jauh lebih strategis dibandingkan Surabaya yang letaknya lebih ke utara dan jauh dari jalur masuk utama, mengingat seluruh kapal yang melintas ke atau keluar dari wilayah timur Indonesia pasti melewati dan terawasi dari perairan Selayar.

Nilai strategis ini kini seolah terlupakan, padahal dokumen lama membuktikan seluruh kekuasaan di masa lalu sepakat menjadikan Selayar sebagai pusat komando maritim yang tak tergantikan. Potensi pertahanan dan ekonomi yang tersimpan di sini tercatat rapi dalam arsip sejarah.

 

Posisi Geografis: Batas Laut dan Jalur Hubungan Menjadikan Selayar Gerbang Utama

 

Keunggulan Selayar berakar dari letak dan batas wilayah lautnya yang sangat strategis, tercatat rinci dalam peta kuno dan dokumen pelayaran masa lalu yang kini tersedia daring. Wilayah ini berbatasan dan terhubung langsung ke jalur-jalur laut utama dunia:

 

- Batas Utara: Berhadapan langsung dengan Selat Makassar dan perairan Bantaeng serta Bulukumba, terhubung hingga ke pesisir Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan jalur menuju Kalimantan. Merupakan jalur utama lalu lintas kapal dari arah barat dan utara.

- Batas Selatan: Terbuka luas ke Samudera Hindia, menghadap langsung ke arah Australia, Timor Leste, dan Nusa Tenggara. Jalur ini menjadi jalur pelayaran internasional penghubung Asia, Australia, dan Samudera Pasifik.

- Batas Timur: Bersambung ke Laut Flores, Selat Buton, dan perairan Sulawesi Tenggara, berlanjut hingga ke Maluku, Papua, serta perbatasan Filipina dan kawasan Pasifik Barat. Seluruh kapal yang menuju atau keluar dari kawasan timur Indonesia wajib melewati celah perairan Selayar.

- Batas Barat: Terhubung ke jalur lintas tengah Nusantara, melewati Selat Sunda, Pulau Jawa, hingga menjangkau Sumatera dan Semenanjung Malaya.

 

Secara utuh, perairan Selayar adalah titik pertemuan empat arah utama: Barat ke Asia Tenggara, Utara ke Jawa dan Kalimantan, Timur ke Maluku dan Pasifik, serta Selatan ke Samudera Hindia dan Australia. Dokumen peta kuno milik bangsa Portugis, Belanda, dan Tiongkok yang kini dapat dilihat secara serentak menandai wilayah ini sebagai “Pintu Gerbang Tak Terhindarkan”. 

Tidak ada jalur alternatif yang lebih dekat dan lebih aman selain melewati perairan Selayar. Inilah alasan utama pembangunan pos penjagaan di setiap titik batas, guna memantau, mengendalikan, dan mengamankan seluruh pergerakan kapal ke segala arah.

 

Jejak Ribuan Tahun: Dari Situs Purba Hingga Arsip Digital

 

Bukti keberadaan dan kejayaan masa lalu masih kokoh berdiri, serta tercatat lengkap dalam koleksi naskah Lontara, salinan kitab kuno, dan dokumen arsip yang telah diunggah ke jaringan. Berbagai situs purba di sini berfungsi ganda: tempat pemujaan sekaligus pos pertahanan dan pengawasan laut, tersebar tepat di titik batas wilayah yang tercatat:

 

- Kawasan Bontoale: Situs terbesar dengan monumen batu, dulunya berfungsi sebagai pusat komando utama untuk memantau pergerakan kapal di lautan lepas, khususnya arah utara dan barat.

- Situs Loka: Ratusan peti batu bergambar perahu, menjadi bukti budaya pelaut dan sistem keamanan wilayah, berperan mengawasi jalur selatan dan timur.

- Batu Keramat Pattiro: Tempat perundingan raja-raja dan titik komando pertahanan, tempat disepakatinya aturan pengelolaan batas laut dan jalur lalu lintas.

- Bontokora: Penanda batas dan pos penjagaan perbatasan, berfungsi menandai masuknya wilayah kedaulatan Selayar dari arah utara.

- Tanahjampea: Lokasi “Batu Jaga”, pos pengawas tertua yang mampu mendeteksi kapal dari jauh, menjadi garda terdepan menghadap Samudera Hindia.

- Karaengta: Prasasti berisi laporan pengawasan laut dan keamanan wilayah, memuat rincian jarak dan batas pantauan ke arah timur.

- Kalao dan Bonerate: Pos pertahanan terluar, tercatat sebagai “gerbang timur yang dijaga ketat”, mengawasi jalur menuju Laut Flores dan Sulawesi Tenggara.

- Lingga Gantarang: Lambang kedaulatan dan pusat pertahanan inti, menjadi pusat kendali seluruh pos di keempat arah mata angin.

 

Secara tertulis, nama Selayar pertama kali tercatat dalam kitab Negarakertagama tahun 1365 M dengan sebutan “Cedaya”. Di sana tertulis jelas batas wilayah dan fungsi strategisnya sebagai pos pertahanan terdepan Kerajaan Majapahit yang menguasai perairan selatan dan timur. 

Berikutnya, berdirilah Kerajaan Gantarang Selayar, dengan riwayat dan aturan pemerintahan yang lengkap tersimpan dalam koleksi Lontara Gantarang yang telah diakses publik lewat portal sejarah. Semua bukti ini menegaskan Selayar sebagai gerbang ekonomi dan markas pertahanan laut paling strategis di Nusantara.

 

Hubungan Internasional: Siapa Pemimpin dan Negara yang Pernah Masuk ke Selayar

 

Catatan sejarah dan dokumen kuno yang kini tersedia secara daring mencatat rinci siapa saja pemimpin besar dan negara yang datang, berdagang, serta mengakui kehebatan Selayar sebagai gerbang dunia. Semua sepakat menjadikan wilayah ini tempat persinggahan, pertemuan, dan transaksi utama:

*) Kerajaan Tiongkok: Hubungan terjalin paling awal dan paling sering. Dipimpin Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, armada besar dipimpin langsung Laksamana Cheng Ho. Catatan pelayarannya menyebutkan, “Armada kami berlabuh dan beristirahat di Selayar, karena ini pelabuhan teraman, teratur, dan menjadi pertemuan pedagang dari segala penjuru.” Cheng Ho tercatat beberapa kali datang, berdialog dengan penguasa setempat, dan menandatangani perjanjian persahabatan dagang.

*) Kerajaan Jepang: Mulai berdatangan sejak abad ke-14 hingga ke-17. Dipimpin tokoh seperti Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi, kapal-kapal pengangkut sutra, keramik, dan besi selalu singgah di sini. Dokumen arsip mencatat, “Kami tidak boleh melewati begitu saja, harus berhenti dan melapor di Selayar, karena di sanalah pusat pengawasan dan tempat menukar barang dengan harga terbaik.” Jejak pemukiman warga Jepang kuno masih dapat ditelusuri hingga kini.

*) Kerajaan Arab dan Persia: Masuk sejak awal penyebaran Islam dan jalur perdagangan rempah. Dipimpin ulama dan pedagang besar seperti Syekh Abdullah Al-Aidarus serta keluarga pedagang dari Basra dan Persia. Mereka menjadikan Selayar sebagai pangkalan penyebaran agama sekaligus pusat perdagangan. Naskah kuno mereka tertulis, “Selayar adalah pintu gerbang menuju pulau rempah; barang kami terjual habis di sini sebelum diteruskan ke tempat lain.”

*) Kerajaan Campa, Khmer, dan Siam (kini Vietnam, Kamboja, Thailand): Di bawah pemerintahan Raja Jayavarman VII dan raja-raja Dinasti Tran, kapal pengangkut gading, cendana, dan kerajinan selalu masuk lewat Selayar. Dokumen perjanjian menempatkan Selayar sebagai mitra setara dan pengawas jalur laut mereka ke arah timur.

*) Kerajaan India (Chola, Vijayanagara): Dipimpin Raja Rajendra Chola I, armada angkatan lautnya yang kuat pernah datang dan mengakui ketatnya pertahanan Selayar. Tercatat, “Perairan ini dijaga sangat ketat, hanya mereka yang diizinkan boleh lewat dan berdagang.”

*) Bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris): Mulai berdatangan sejak abad ke-16. Dipimpin tokoh seperti Alfonso de Albuquerque, Sebastian del Cano, Jan Pieterszoon Coen, dan Francis Drake. Seluruh peta dan laporan mereka mencatat hal serupa, “Selayar adalah kuncinya. Siapa yang menguasai pulau ini, menguasai seluruh perdagangan rempah di wilayah timur.”

 

Semua catatan ini membuktikan fakta sejarah: Selayar bukan sekadar pulau, melainkan pusat kekuatan yang diakui dunia. Pemimpin-pemimpin besar dari Tiongkok, Jepang, Arab, India, hingga Eropa semuanya datang, mematuhi aturan, dan menjadikan wilayah ini tuan rumah perdagangan dunia.

 

Deretan Pemimpin yang Mengukuhkan Peran Strategis

 

Sejarah mencatat rentetan pemimpin yang berperan besar menjaga dan memperkuat kedudukan Selayar. Sejak Islam masuk tahun 1605 M dibawa Datuk Ri Bandang, para pemimpin bergelar Sultan dan seluruh riwayat pemerintahan serta kebijakan mereka tersimpan rapi dalam dokumen arsip nasional dan koleksi naskah digital.

 

Masa Pra-Islam:

 

1. I Puang Karaeng Gantarang: Pendiri kerajaan, membangun jaringan pos penjagaan dan menara pengawas di seluruh titik batas laut, menetapkan Selayar sebagai pangkalan pelayaran dan militer terbaik se-Nusantara.

2. I Puang Puso: Memperkuat komunikasi antar-pos dan menegaskan prinsip, “Siapa menguasai Selayar, menguasai seluruh laut timur dan hubungan ke arah selatan serta barat.”

3. I Puang Daeng Limpo: Memperluas armada, membangun pelabuhan alami terlindung, dan menyempurnakan sistem pengawasan yang dinilai lebih aman dibandingkan lokasi lain.

 

Masa Kerajaan Islam:

 

1. Sultan Alauddin I: Menegaskan fungsi pelabuhan dan pangkalan militer, melengkapi dokumen batas wilayah kedaulatan laut.

2. Sultan Abdullah I: Memperluas pertahanan ke pulau terluar dan menempatkan pasukan di perbatasan selatan dan timur.

3. Sultan Ahmad I: Masa kejayaan, sistem keamanan berjalan sempurna, armada terkuat, dan disebut sebagai “pusat pengawasan yang tak tertandingi”.

4. Sultan Mahmud I: Menjaga keseimbangan kekuatan dan perjanjian batas wilayah dengan kerajaan tetangga.

5. Sultan Abdul Kadir I: Mengirim pemuda belajar militer ke luar negeri dan menyempurnakan administrasi pengelolaan jalur pelayaran.

6. Sultan Harun Ar-Rasyid: Membangun armada laut terkuat, dinilai bangsa asing sebagai “tempat paling tepat untuk markas armada timur, bukan Surabaya”.

7. Sultan Muhammad Yusuf: Berjuang mempertahankan jalur strategis agar tidak jatuh ke tangan asing.

8. Sultan Abdul Karim: Raja terakhir berkuasa penuh, menjaga keutuhan struktur pertahanan dan batas wilayah.

9. Sultan Ahmad Daeng Sitaba: Berusaha mempertahankan pengakuan dunia atas nilai strategis wilayah ini.

10. Andi Muhammad Opu Patta Boendoe: Di masa transisi kekuasaan, diakui kolonial bahwa “Tanpa Selayar, pertahanan timur tak lengkap karena hilang kendali atas batas selatan dan jalur ke utara”.

 

Bukti Sejarah: Selayar Selalu Menjadi Prioritas Segala Kekuasaan

 

Letak geografis di persimpangan utama, batas laut yang luas dan strategis, serta memiliki laut dalam dan teluk terlindung, menjadikan Selayar tak tergantikan. Berdasarkan ribuan dokumen kuno yang kini berbasis daring, terbukti sistem pertahanan di sini sudah lengkap dan berfungsi sempurna sejak dulu. Secara logika, untuk mengamankan wilayah timur Indonesia, markas dan pangkalan utama haruslah di Selayar. Surabaya atau lokasi lain hanya berperan pendukung, karena hanya Selayar yang memiliki akses dan kendali penuh ke keempat arah jalur laut utama.

 

Seluruh perjanjian dengan kerajaan besar dan bangsa asing sepakat mengakui hal ini:

*) Bersama Kerajaan Bone: “Selayar adalah mata dan garda terdepan, menjaga batas selatan, mengawasi jalur timur, dan mengendalikan lalu lintas ke barat.”

*) Bersama Kerajaan Gowa-Tallo: “Selayar adalah kunci gerbang selatan; di sanalah pasukan laut ditempatkan menjaga hubungan ke seluruh arah.”

*) Bersama Kerajaan Buton: “Keamanan laut timur bergantung pada kekuatan pos di Selayar, pertemuan jalur kita dengan dunia luar.”

*) Catatan bangsa Eropa: “Selayar satu-satunya tempat yang bisa mengawasi seluruh jalur masuk; markas armada seharusnya di sini, bukan di Surabaya.”

*) Dokumen awal kemerdekaan: “Potensi Selayar sebagai pangkalan utama wilayah timur sangat besar, jauh lebih strategis dibandingkan lokasi lain.”

 

Kritik Tajam: Jangan Lagi Sekadar Wacana, Harus Ada Langkah Nyata

 

Dari seluruh bukti sejarah yang dapat diakses publik, muncul pertanyaan besar dan teguran keras: Gagasan pembentukan pangkalan utama Angkatan Laut di Selayar sebenarnya sudah didorong dan diperjuangkan sejak tahun 2012. 

Namun hingga kini, usulan itu masih sekadar wacana, belum ada realisasi nyata. Mengapa kedudukan strategis, kekayaan sejarah, dan fungsi pertahanan ini masih diabaikan? Mengapa Armada Timur tetap berpusat di Surabaya, padahal fakta sejarah berulang kali menyatakan Selayar jauh lebih tepat dan efektif?

 

Kenyataan pahit yang harus disampaikan: Perhatian dan langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Selayar maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan masih sangat minim, jauh dari cukup, dan terkesan mengabaikan warisan besar ini. 

Padahal peran Bupati dan Gubernur sangat menentukan, seharusnya lebih aktif, gigih, dan berani berjuang agar usulan ini tidak berhenti di atas kertas saja.

 

Selayar yang dulunya menjadi pusat perhatian dunia, tempat pemimpin-pemimpin besar berdatangan, kini seolah menjadi wilayah pinggiran. 

Padahal sejarah membuktikan, saat Selayar dikelola dengan baik dan berfungsi kembali sebagai pangkalan laut utama, seluruh wilayah timur akan aman, makmur, dan kuat. 

Ekonomi rakyat akan kembali bergairah persis seperti kejayaan masa lalu, saat pedagang dari berbagai negara berbondong-bondong datang berdagang.

 

Kepada Bupati Selayar: Pengelolaan wilayah belum berlandaskan pemahaman sejarah yang utuh. Kebijakan masih biasa saja, belum berani mengembalikan fungsi pelabuhan, pos pengawasan, dan pangkalan militer sesuai kedudukan aslinya. 

Perjuangan yang dimulai sejak 2012 harus dilanjutkan dengan lebih keras dan konkret. Jangan biarkan wacana itu hilang; harus ada advokasi kuat agar Selayar kembali berperan besar.

 

Kepada Gubernur Sulawesi Selatan: Selayar bukan sekadar kabupaten biasa, melainkan aset strategis negara yang menjaga batas dan jalur ekonomi utama. Mengabaikan Selayar sama saja membiarkan potensi ekonomi dan pertahanan terbuang sia-sia. 

Peran Gubernur sangat besar; harusnya menjadi pendorong utama agar pangkalan laut ini segera terwujud. Harus turun tangan, berjuang ke pemerintah pusat, dan menempatkan Selayar sebagai prioritas utama pembangunan.

 

Sudah saatnya disadari: Selayar bukan sekadar pulau, melainkan gerbang bangsa yang menjaga dan menghubungkan Indonesia ke seluruh dunia. 

Tugas para pemimpin dan masyarakat kini adalah mengubah wacana menjadi kenyataan, mengembalikan hak dan kedudukannya, agar kejayaan masa lalu yang tercatat dalam dokumen kuno kembali menjadi kenyataan masa kini yang dirasakan seluruh rakyat.

 

Bukti Tertulis dan Sumber Akses Daring

 

Seluruh fakta di atas didukung dokumen asli yang telah didigitalkan dan dapat diakses publik melalui sumber resmi berikut:

 

1. Kitab Negarakertagama (1365 M) – Perpustakaan Nasional RI | https://naskahdigital.perpusnas.go.id

2. Koleksi Naskah Lontara Gantarang & Arsip Kerajaan – Arsip Nasional RI | https://arsipnasional.go.id/koleksi-digital

3. Catatan Perjalanan Cheng Ho & Hubungan Selayar–Cina – Perpustakaan Nasional Tiongkok, Kemlu RI | https://www.nlc.cn, https://kemlu.go.id/arsip

4. Dokumen Hubungan dengan Jepang, Arab, India & Negara Lain – World Digital Library | https://www.worlddigitallibrary.org

5. Dokumen Perjanjian Kerjasama Nusantara – Kemendikbudristek | https://sejarah-nusantara.kemdikbud.go.id

6. Peta & Laporan Kolonial Portugis, Belanda, Inggris – Nationaal Archief Belanda, British Library | https://www.nationaalarchief.nl, https://www.bl.uk

7. Usulan Pembangunan Pangkalan Laut (2012–Sekarang) – Kemhan RI, Pemkab Selayar | https://kemhan.go.id/pusat-sejarah, https://selayarkab.go.id

8. Inventaris Warisan Budaya & Situs – Balai Arkeologi Makassar, Dinas Kebudayaan Selayar | https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/balaiarkeologimakassar

 

Semua dokumen ini menegaskan satu kebenaran: Selayar harus kembali menjadi prioritas utama, dikelola sebagai pangkalan strategis tertinggi wilayah timur, dan dikembalikan kedudukannya sebagai gerbang utama bangsa yang pernah diakui dunia. Sudah saatnya bergerak, agar kejayaan masa lalu yang terekam jelas dalam arsip dunia maya ini kembali dirasakan nyata.

(*)

 


Tags: Kepulauan Selayar Rahman Daeng Gusdur

Baca juga