Limbah Pasar di Makassar Hampir 11 Ton Per Hari, Libatkan Ternak Sapi Untuk Urai Sampah Organik
Sapi ternak menikmati sayuran limbah dari pasar saat dikumpulkan di peternakan di Tamangapa, Antang.- foto: istKAREBANUSA.COM, MAKASSAR - Pemerinta Kota (Pemkot) Makassar menggerakkan pemilahan sampah secara terpadu mulai dari sumbernya.
Salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah sampah organik, baik limbah rumah tangga, industri, maupun dari pasar.
Makanya, pemerintah meminta warga untuk mengolah sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan dedaunan, menjadi produk yang bermanfaat seperti pupuk kompos atau pakan ternak, guna mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Sayangnya, produksi sampah organik, khususnya limbah dari pasar masih membludak. Diperkirakan, setiap hari, sampah oganik dari pasar mencapai 11 ton per per hari, yang berasal dari sejumlah pasar di Makassar.
Sebelum kebijakan open dumping diberlakukan, sampah-sampah ini dibuang ke TPA Antang.
Karena ada sumber makanan, maka peternak sapi membawa hewannya ke TPA dan memakan sampah-sampah oganik di sana.
Yang menjadi persoalan kemudian, karena sampah organik tersebut sudah bercampur dengan sampah lainnya dan tidak lagi steril untuk jadi pakan ternak.
"Beberapa hari lalu kami bersama Ketua PKK Kota Makassar, Ibu Melinda Aksa, ke TPA dan melihat fenomena itu. Sapi-sapi datang karena ada sumber makanan tanda kita sadari bahwa itu berbahaya bagi ternak," ucap Marini Ambo Wellang, anggota Dewan Lingkungan Makassar kepada Karebanusa.com, Selasa (25/8/2026).
"Kemudian kami berdiskusi mengusulkan agar pengolahan sampah organik dari pasar melibatkan ternak sapi," tambahnya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makasar kemudan melakukan uji ciba di sebuah lahan kosong dekat TPA Tamangapa Antang. Lahan dipagari lalu dimasukkan sampah organik dari pasar ke lahan tersebut.
Sapi-sapi pun dimasukkan ke dalam areal dan tidak butuh lama, sampah tersebut habis dimakan gerombolan sapi.
"Peternak sapi pun senang dan bersyukur karena tidak susah lagi mencarikan pakan untuk sapinya," kata Marini.
"Sebenarnya, metode seperti ini sudah diberlakukan di beberapa negara dan kita akan coba di Makassar," tambah alumni Ilmu Komunikasi Unhas ini.
Saat ini, sampah organik pasar yang masuk ke lokasi ternak di Tamangapa baru sekitar 2,8 ton per hari. Pengiriman sampah dilakukan 2 kali, malam hari dan siang hari.
Marini memastikan bahwa semua sampah yang dikirimkan kesana sebelumnya sudah dipilah dan hanya jenis organik yg boleh dikirim.
Saat ini selain pasar, dari kecamatan pun diminta membawa sampahnya, namun sekali lagi syaratnya yang benar-benar sudah terpilah, hanya organik.
"Semua sampah wajib dihitung berapa banyak yang masuk untuk dilakukan pencatatan jumlah penanganan sampah," ucap Marini.
Sebaiknya Difermentasi
Metode ini mendapat dukungan dari pakar perternakan Universitas Hasanuddin, Prof Syahdar Baba.
Namun, ia memberikan cacatan agar sampah ogranik tersebut disterilkan sebelum diberikan ke ternak.
"Pemanfaatan sampah atau limbah sayur dari pasar akan lebih baik lagi jika dilakukan fermentasi sebelum pemberian ke ternak. Kkarena akan meningkatkan nilai nutrisi dan menghilangkan mikroorganisme patogen yang kemungkinan telah mencemari sampah lain di sumber (pasar)," ucapnya saat dihubungi Seni (24/8/2026).
Dekan Peternakan Unhas ini menambahkan bahwa kebijakan pemerintah Kota Makassar dalam pengelolaan sampah organik melalui pemilahan sejak di rumah tangga ataupun sumbernya merupakan kebijakan yang sangat tepat.
Pemilahan sampah saat ini sudah jauh lebih baik dibanding dengan kondisi pada waktu sampah tidak dipilah. Saat itu, ternak sapi bebas berkeliaran mencari pakan di TPA.
Sementara, katanya, TPA antang yang selama ini menjadi sumber pakan bagi ribuan ternak sapi berpotensi menyebabkan banyak masalah bagi ternak dan manusia yang mengkonsumsi daging sapi.
"Karena, ada potensi cemaran sampah organik dengan kandungan lainnya di TPA," katanya.
"Sehingga pemilahan sampah organik sejak di rumah tangga atau sumber sampah dapat menjadi potensi sumber pakan bagi ternak sapi dan juga ternak lainnya," tambahnya.
Satu hal lagi, jika limbah organik tersebut diolah menggunakan maggot atau cacing, maka selain menghasilkan sumber protein unggul untuk ternak melalui tepung maggot dan cacing juga akan mengahsilkan pupuk organik dari bekas maggot (kasgot) ataupun bekas cacing (kascing).
(*)
Tags: Bekas maggot (kasgot) Fakultas Peternaka Unhas limbah pasar maggot Prof Syahdar Baba sampah organik TPA Tamangapa
Baca juga
- Peneliti Lingkungan Dukung Penghentian Open Dumping di TPA Tamangapa, Warga Diajak Mulai Pilah Sampah dari Rumah
- Bosowa Peduli Olah Kasgot Jadi Pupuk Organik, Dukung Urban Farming dan Ekonomi Sirkular di Makassar
- Festival Daur Bumi Hadirkan Sayuran Organik di CFD Sudirman, Bosowa Peduli Perkenalkan Pengolahan Sampah Organik
- Monev KKN Tematik ke-59 Unibos di Panakkukang, Pengolahan Maggot Meningkat Hingga 2 Ton per Hari
- Barombong dan Sudiang Jadi Lokasi Urban Farming Modern di Makassar, Ini Fasilitas Lengkap
